Hiduplah Sederhana

Cover FinalPagi ini, aku menjemput seseorang dan ketika ia sudah masuk dalam mobil, ia bertanya, “Kamu cuma bawa tas sekecil itu?”

Aku menjawab, “Iya, soalnya bawaan yang lain udah banyak, biar enggak ribet.”
“Iya bener. Aku juga bawa tas gini aja, yang palsu-palsu aja deh…” katanya.

Ehm… dalam hati saya bingung, apa hubungannya antara “ukuran tas kecil” dengan “palsu”? Hehehe… Rupanya dengan secepat kilat dia melihat merk tas yang kubawa. Memang banyak palsunya di pertokoan grosir, tapi… dalam hati setelah sadar akan maksudnya, saya pingin bilang, “Ini asli Bu… bukan palsu.”

Hahaha… aku tertawa dalam hati dan dengan cepat berpikir, lebay ah. Ngapain juga harus pamer barang asli atau palsu. Biar aja dikiranya palsu, yang penting tasku asli. Tas itu pemberian dari seorang teman. Teman kakakku tepatnya. Jadi aku sama sekali tidak perlu tersinggung. Sekali lagi, yang penting kan asli… 

Baru kemarin malam aku ngobrol dengan seseorang yang menceritakan bahwa ternyata enggak semua orang yang punya harta berlimpah bisa bahagia. Kenyataannya, uang berlimpah, tapi masa tuanya sendirian. Istri tidak tinggal serumah karena mengurusi bisnis di luar kota. Anak-anak tidak mau tinggal dengan orangtuanya, entah karena apa. Jadi setiap malam, orang itu pulang pukul 10-11 malam, ke rumahnya yang amat sangat besar ukurannya… tapi kosong, alias tidak ada keluarga dekatnya yang bisa menyambut dan mengajaknya ngobrol. Padahal umurnya sudah tua, sekitar 70-an. Harta berlimpah tidak bisa membeli sebuah hubungan yang dirindukan. Mungkin itu hikmah dari kisah nyata yang ia ceritakan tentang seseorang yang kaya raya. Ada juga sepasang teman, katanya, yang jadi sombong ketika mulai kaya. 

Lalu pembicaraan berpindah ke soal harta dan kenapa ada orang yang punya harta berlimpah ruah, lalu gaya hidupnya berubah drastis, tapi ada juga orang yang punya harta jauh lebih berlimpah, tapi itu tidak merubah gaya hidupnya yang sederhana. Mau tahu siapa yang terlintas langsung dalam bayanganku? Ya! Betul! Kelompok konglomerat yang masih hidup dengan sederhana (dilihat dari penampilannya saja), adalah Mark Zuckerberg (aku agak-agak bangga bisa mengetik namanya di blogku), dan of course, Mr Bill Gates, rajanya microsoft. Kalau softwarenya tidak dibajaki oleh berjuta-juta manusia pengguna Microsoft, maka tidak bisa kubayangkan akan jauh lebih sekaya apa dia…. x_x

Menurutku, uang memang punya “daya rusak”. Sebab, tidak sedikit manusia yang mulai bergaya petentang petenteng setelah punya banyak uang. Tidak terkecuali, apapun status, fungsi, jabatan dan dalam dunia rohani maupun di luar rohani. Tapi… ketika aku mencoba menjelaskan penyebab kesalahan si uang, terlintas lagi 2 nama di atas. Lalu aku berpikir, sepertinya yang punya daya rusak bukan uang, tapi gaya hidup….

Ketika seseorang mulai berubah gaya hidupnya, penampilannya, mobil yang ia tumpangi, rumahnya, perabotnya, aksesoris yang ia kenakan, dll, dll, itu pertanda bahwa ketika suatu saat hartanya habis (bangkrut), dikuatirkan orang itu akan mengalami masa yang jauh lebih sulit bahkan ketika dulu masih tidak punya uang. Sebab, dia tidak bisa tidak akan terus mempertahankan “gaya hidup”nya yang sudah terlalu tinggi atau terlalu “besar pasak daripada tiang”. Mungkin, daripada menanggung malu karena tidak lagi punya uang, dia akan mulai berhutang kiri-kanan dan menghalalkan segala cara untuk tetap terlihat kaya, atau stres dan mengalami depresi.

Tapi… seandainya gaya hidupnya tidak berubah (tetap sederhana, yak! Seperti yang terlihat dari 2 nama di atas), ketika harta mereka habis, mereka tidak perlu repot mempertahankan gaya hidupnya. Karena ketika tidak ada uang, dan ketika kaya sraya (jauh lebih kaya dari kaya raya), penampilannya sama saja. Jadi orang lain tidak akan tahu, kapan uangnya sedang banyak, kapan uangnya mulai menipis. 

Sadarlah bahwa manusia ini hidup dalam dunia yang tidak pasti. Tidak ada yang kekal juga kan. Apa yang dipunyai, satu saat bisa habis. Dan apa yang tidak dipunyai, satu saat bisa mendadak berkelimpahan. Semua hanyalah sementara… 

Jadi? Hiduplah sederhana. Cukupi diri dengan apa yang ada. Tidak perlu pamer. Yang penting benar-benar kaya raya. Daripada disangka kaya, tapi dari hasil berhutang. Seperti ceritaku tadi pagi. Tidak masalah tas itu dibilang palsu, yang penting aku tahu, tas itu asli.

Kalau sedang berkelimpahan, lebih baik berbagi dengan orang lain. Daripada terus hidup konsumtif untuk menaikkan gengsi dengan membeli barang-barang mewah… Satu saat semua bisa habis… 

Kalau tidak punya banyak uang, bersyukurlah, dan teruslah bekerja serta berdoa, sebab TUHAN tidak pernah akan membiarkan anakNYA berkekurangan…. !

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s