CINTAKU (BUKAN) DI CAUSEWAY BAY – BAB 8

SMS 

 bab 8Hari ini nafasku agak sesak. Hatiku galau. Keputusan yang sudah bulat untuk “move on” mendadak samar. Cerita Aldi sepertinya masuk akal. Tapi kecurigaanku juga masuk akal.

“Sa… ini HP kamu kok di bawah bantal?” tanya Mama membuyarkan lamunanku. Aku menghentikan adukan madu yang hendak kuminum.
“Oh! Iya Ma! Sampai lupa! Kemarin Sasa sudah ngantuk banget. Jadi Sa taruh saja di bawah bantal. Sini Ma, Sasa mau nyalain, sepertinya baterainya sudah harus di-charge juga…”

Aku lalu mengambil HP dari tangan Mama, melanjutkan mengaduk madu, meminumnya, lalu masuk ke dalam kamar.

Setelah kunyalakan, benar saja baterainya hampir habis. Memang dari semalam, tapi aku lupa-lupa ingat. Nomor yang di dalam masih nomor Hong Kong, aku belum sempet membeli nomor baru.

Tiba-tiba ada SMS masuk.

Sembari berjalan ke arah meja mencari charger, aku membuka SMS itu.
“Thank God kalau sudah sampai Sa. Selamat beristirahat. Sampai besok yah!” Dari Anton rupanya. Aku pun mematikannya lagi dan ku-charge. Setelah itu aku keluar kamar lagi untuk makan siang bersama Mama. Seperti biasa, Papa sudah makan, karena tidak bisa kalau makan terlambat.

Sudah hampir pukul 1 siang.
“Tadi ngobrolin apa saja Sa?” tanya Mama.
“Ehm… “
“Ya sudah, nanti saja ceritanya. Makan dulu.”
“Iya Ma, nanti Sa ceritain di kamar aja ya…”
Aku memilih untuk diam. Malas bercerita.

Selesai makan, aku mencuci piringku dan piring Mama, lalu masuk ke dalam kamar. Mama menemani Papa menonton TV. Sekitar pukul 3 sore Mama masuk ke dalam kamar. Di luar masih saja hujan. Hanya saja sudah tidak terlalu deras.

Mama lalu merebahkan diri di tempat tidurku.

“Hawanya sejuk ya Sa… “
“Iya Ma. Enak begini. Sa masih bisa tahan. Daripada hawa dinginnya Hong Kong. Menusuk tulang!”
“Hahaha… dasar kamu kan memang “anak panas”!
“Hahaha… iya nih, anak panas!”
“Hmm… Mama tidur di sini sebentar ya Sa. Ngantuk…”
Tidak berapa lama, kulihat Mama sudah pulas. Terdengar suara dengkuran sangat lembut. 15 menit kemudian, aku juga merebahkan tubuhku di sebelah Mama dan tertidur.

Satu setengah jam kemudian aku terbangun. Mama sudah tidak ada di sampingku. Lalu aku keluar kamar.

“Minum tehnya Sa,” kata Mama ketika melihatku.
“Papa kemana Ma?”
“Oh! Biasa… ke tetangga sebelah ngobrol-ngobrol…”
Hujan sudah berhenti rupanya. Aku lalu menceritakan percakapanku dengan Aldi.
“Coba saja kamu jalani dulu. Sambil berdoa supaya Tuhan tunjukkan kalau memang apa yang kamu rasakan selama ini benar atau tidak. Biasanya perempuan memang lebih perasa walaupun untuk hal-hal yang tidak terlihat…” kata Mama.
“Besok Aldi mau ke sini lagi Ma… Sa kok malas ya untuk ketemu…”
“Hmm… ya sudah jalani saja. Mama doakan juga, biar semuanya jelas. Jadi tidak perlu buang waktu kan…”
“Iya Ma… Makasih.”

Aku menonton TV sebentar, lalu masuk ke kamar. HP-ku sudah penuh rupanya. Aku mencabut charger, merapikannya, lalu menyalakan HP dan kubawa keluar kamar.
“Ma, mau beli nomor HP baru dimana ya?”
“Di minimarket depan komplek ada kok Sa.”

Aku lalu berpamitan untuk keluar rumah ingin membeli nomor baru, sekalian membeli shampo.  Ketika akan mengganti nomor HP, ada SMS masuk.
“Halo Sa. Gimana? Udah segar atau masih capek?”
Aku tersenyum membaca SMS dari Anton, lalu mematikan HP. Nanti saja kubalas setelah berganti nomor baru…
“Terima kasih Mas! Mari…” kataku ke kasir minimarket yang sudah membantu mengganti dan mendaftarkan nomor baru.

Sampai di rumah… aku melihat Papa sedang duduk di meja makan menyeruput minuman jahe. Mama mungkin sedang di dalam kamar.
“Lumayan ya Pa ada minimarket sekarang di depan komplek!” kataku. Aku lalu duduk di depan Papa.
“Iya. Sangat membantu. Yang paling dekat dari rumah kita ya cuma satu itu. Sa, bukannya kamu sudah putus sama Aldi?”
Waduh! Pertanyaan Papa membuatku kaget…
“Ehm… Iya Pa..”
“Kok dia bisa tahu kamu pulang ke Jakarta?”
“Ehm… katanya dia pergi ke apartemen Sasa di hari yang sama Sasa pulang Pa. Dia diberitahu pemilik apartemen kalau Sasa pulang “for good”..”
“Jadi dia langsung menyusul ke sini?”
“Ehm… enggak juga sih. Dia memang kebetulan ada pekerjaan di sini, sekitar 1 minggu. Tapi katanya tadi dia langsung dari bandara.”
“Oh gitu. Lalu hubungan kalian bagaimana?”
“Belum tahu Pa. Aldi sih minta balikan seperti dulu. Tapi Sa masih bingung.”
“Ya sudah. Kamu kan lebih kenal Aldi. Kamu juga sudah dewasa, sudah bisa memutuskan sendiri. Papa doakan saja supaya keputusanmu benar!”
“Iya Pa. Makasih…”

BERSAMBUNG KE:
https://godmeandmydiary.wordpress.com/2016/07/03/cintaku-bukan-di-causeway-bay-bab-9/

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Fiksi/Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s