Disengat Lebah!

AkVjlf-fjw35hopfXP9oKytMyV7W4G6yg6htbAk-QI8qPagi itu jari telunjuk kiriku disengat lebah. Sakitnya bukan main. Kira-kira seperti ditusuk jarum jahit, tapi tidak dicabut-cabut. Padahal sengatnya yang menancap di jari sudah dicabut oleh temanku. Tapi ternyata sensasi sakitnya masih sama.

“Pakai ludah! Pakai ludah!” saran beberapa teman lain.

Aku lalu mencoba menggigit untuk mengeluarkan darah agar racun dari si lebah yang menyakitkan itu berhenti memberiku kesakitan. Tapi aneh. Darah tidak keluar. Hanya setitik merah. Jadi lubang bekas sengatan lebah seperti otomatis tertutup, dan aku hanya bisa melihat darah yang tidak bisa keluar di ujung telunjukku. Haduuuh sakitnya… luar biasa!!

Itu lebahnya sangat kecil loh! Kurang lebih seukuran kuku jari kelingking saja. Tak terbayang, bagaimana kalau yang menyengatku lebah berukuran besar atau lebih besar.
“Mana lebahnya! Mana?” tanya teman-teman.
Dan mereka melihat seonggok mayat lebah berukuran kecil di pinggiran laut, lalu dihentakkan oleh salah seorang teman hingga terbuang ke laut.

Mungkin ekspresi mukaku tidak menunjukkan rasa sakit ya. Sehingga mereka seolah tidak terlalu percaya. Padahal… sakitnyaaaaaa…. (entah berapa kali aku menyebut kata “sakit” di atas).

Kata ayahku, “Aku ratusan kali ke Ancol, kok nggak kena sengatan lebah?”
Yah! Aku baru sesekalinya itu lari pagi ke Ancol, dan langsung tersengat lebah.
Pertanda buruk? Ah! Itu hanya takhayul.
Kata kakakku, “Pertanda bakal terima berkat! Mau dapet pacar!”
Hahahaha….

Di hari Valentine yang difatwa haram ini, seorang teman mengajakku “dinner”. Aih! Romantis kan… hahahaha…

Ehm… hari Kamis, (kesengat lebah hari Sabtu pagi), aku terkena macet semacet-macetnya ketika pulang kantor. Aku pun memilih jalan yang sebetulnya jarang kulalui. Tidak ada rasa curiga, kecuali memang perasaan tidak nyaman selama beberapa hari.

Jumat pagi, setiba di kantor, aku memerhatikan ban-ban mobilku. Tak kusangka, ban belakang kempes 2-2nya! Setelah menunggu waktu sampai sekitar jam 9, aku menuju sebuah bengkel.

“Wah! Ini kena ranjau Kak!”
Yak! Pada ban belakang sebelah kiri, terdapat 2 paku, walaupun yang membuat bocor ban hanya 1. Lalu pada ban belakang sebelah kanan, terdapat 3 paku! (untungnya yang membuat bocor ban hanya 1 juga).

Luar biasa pekerjaan orang-orang itu. Hanya untuk mendapatkan uang beberapa belas ribu saja harus mencelakakan orang lain lewat cara-cara haram “menebar paku” di tengah jalan.

Bicara soal fatwa haram. Aku bingung. Kenapa hal-hal yang baik justru difatwa haram? Sementara perbuatan-perbuatan kriminal seperti menebar paku di jalanan tidak diharamkan?

Eh! Tapi aku tidak mau membahas soal fatwa haram. Toh tidak terlalu penting buatku. Jaman sekarang alias kekinian seperti ini, generasinya sudah tidak terlalu pusing dengan hal-hal tidak masuk logika seperti mem-fatwa haram perayaan hari valentine.

Melainkan aku ingin membahas bahwa… setiap persoalan itu ada UNTUK diselesaikan!

Seperti kempesnya banku, aku begitu lega ketika keluar dari bengkel setelah membayar 50ribu Rupiah untuk “Dua lubang! Lima puluh!” (itu teriakan si mandor ke bagian kasir sebagai informasi harga jasa yang harus kubayar, walaupun lebih mahal ketimbang tarif yang diterapkan atasan mereka ketika tahun lalu aku cukup membayar 15 ribu untuk 1 lubang). Padahal sebelumnya aku sempat berpikir betapa beruntungnya aku, karena tidak pernah mengalami kempes ban, eeee ternyata hari Jumat pagi justru sekaligus 2 ban dengan 5 paku menancap!

Lalu seperti tersengatnya jariku oleh si lebah. Padahal di situ ada begitu banyak teman berkumpul sedang berfoto, kenapa hanya aku yang disengat? Tapi setidaknya aku tahu bagaimana rasanya disengat lebah, yang amat sangat menyakitkan rasanya, dan bagaimana mengatasinya.

Setelah beberapa jam disengat, aku baru sempat mencari di internet dan jadi mengerti bahwa seharusnya aku mencuci bagian yang disengat lebah dengan air dan sabun, lalu mengompres dengan es, atau mengolesinya dengan odol. Yang kusyukuri selain itu adalah, tidak ada gejala alergi apapun. Padahal bisa saja hal terburuk terjadi, termasuk kematian. Secara umur manusia tidak ada seorang pun yang bisa tahu kan…

So… permasalahan apapun yang menimpa, HARUSLAH UNTUK DISELESAIKAN. Dan bukan untuk dihindari. Dan ketika kita berani menghadapi masalah-masalah kita, maka kita akan menjadi pribadi yang jauh lebih PINTAR!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s