Anjing VS Kucing

Cover FinalTadi siang aku pergi ke sebuah warung makan ayam goreng. Favorit buatku, sebab rasanya lezat dan krispi. Tahu dan tempe gorengnya juga lezat. Jadi menu makan siangku nyaris tidak berubah setiap kali pergi ke warung itu: nasi setengah+ayam paha goreng+tahu goreng+tempe goreng+sambal terasi+kecap manis.

Nah, siang itu, selagi menunggu pesanan jadi, aku mengambil kerupuk coklat, lalu memakannya sambil duduk. Di dekatku ada tamu lain, seorang pria muda yang sedang makan nasi, tapi lauknya bukan dari warung makan itu.

Tidak lama aku duduk, seekor kucing berbadan montok nekat naik ke kursi di sebelah si pria, dan kepalanya jadi begitu dekat dengan piring si pria.
“Mas!!” kataku dengan volume kencang, karena harus berlomba dengan suara kendaraan yang lalu lalang di depan warung, suara penggorengan, dan suara TV.
Si “mas” yang tadinya menonton TV jadi menengok ke arahku.
Dan aku berkata lagi, “Ada kucing!!”

Si “mas” cuma senyum, lalu menyingkirkan kucing itu dengan tangannya supaya turun dari kursi. Tapi si kucing tetap saja mengulangi. Aku agak jijik kalau sama kucing dan tidak suka. Selain bulunya rontok, mukanya itu loh… jahat. Namanya juga “macan kecil”. Kan satu ras dengan macan. Dan ini… ehm… bodohnya luar biasa. (Sudah jahat, bodoh pula… x_x ga ada gunanya kan…)

Aku jadi ingat, dulu temanku memelihara kucing jenis angora. Bulunya sih bagus memang. Tapi… selain bau, kucingnya sangat bodoh. Sudah diberi nama, tapi kalau dipanggil, tidak pernah bisa nengok seperti anjing.

Kalau adikku beli anjing, dia akan memberi nama anjing itu dengan cara memanggil atau menyebut nama yang sama ke si anjing berkali-kali. Tidak dibutuhkan waktu lama, mungkin dalam 1 hari, si anjing sudah langsung mengenali “nama”nya sendiri. Jadi begitu dipanggil dengan nama yang sama, dia pasti (minimal) menengok dan mendekat.

Ada yang lucu soal nama anjing. Dulu adikku pernah beli anjing. Dia sudah memberi nama, katakanlah, “Moli”. Tapi karena Mbak Karti tidak suka nama itu, dengan frekuensi yang lebih sering, dia memanggil nama lain ke si anjing. Dan akhirnya sampai anjing itu meninggal, nama yang jadi jati dirinya adalah nama yang “diberikan” oleh Mbak Karti.😀

Aku jadi berkesimpulan bahwa… kalau mau jadi orang benar yang kenal TUHAN, jadilah seperti anjing. Yang sudah terkenal setia kepada tuannya, walaupun si tuan tidak sedang membawa benda/makanan apapun untuknya. Istilahnya, kita dekat-dekat TUHAN bukan dengan pamrih bakal jadi kaya raya, kenyang, berkecukupan, dll. Tapi simply memang senang dekat dengan Tuhan. Tanpa pamrih.

Dan jangan jadi seperti kucing. Yang sudah bodoh, jahat, malas, jorok, eeee maunya cuma dekat tuannya KALAU ada makanan!

Seperti kucing di warung makan tadi. Ternyata si pria dan si kucing sudah saling kenal. Sebab, ketika si pria selesai makan, dia memanggil si kucing (“sstt!!” katanya sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pinggir warung), lalu menumpahkan sisa makanannya untuk si kucing, dan makanlah si kucing itu. Coba kalau si pria sedang tidak makan. Aku yakin seyakin-yakinnya, si kucing akan mencari “pria” lain atau tamu lain. Karena Aku juga sempat didekati oleh si kucing ketika makan krupuk. Aku yang memang tidak suka, sengaja mengusir si kucing dengan menggerak-gerakkan kakiku ke arah si kucing.

Yah… begitulah kesimpulan cerita ku hari ini… soal anjing versus kucing…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life, Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s