A Heroic Dad

GembokMalam itu aku menonton TV. Tiba-tiba mendengar kata “kunci”, dan melayanglah memori ini ke masa sekolah dulu.
Aku baru datang dari sebuah kota kecil, tempatku dilahirkan, ke ibukota. Ternyata teman-teman di sekolah baru tidak seramah yang kuharapkan. Ada yang judes. Ada juga yang super iseng. Dan saking isengnya, aku harus mengunci tasku.

“Ma, punya gembok nggak?” tanyaku ke Mama.
“Buat apa?” 
“Buat ngunci tasku. Soalnya ada yang suka iseng.”

Mama lalu memberi sebuah gembok kecil beserta kuncinya yang juga kecil.

Aaah… aku merasa lega. “Kali ini, dia nggak bakal bisa ngacak-ngacak isi tasku!” pikirku.

Ternyata….

Selesai istirahat siang, baru sehari aku merasa sangat aman, ketika aku bersama kedua teman baik naik ke atas dan menuju ruang kelas, tahu apa yang kulihat?

Si teman yang super iseng tadi sudah tersenyum-senyum ke arahku di posisi duduk yang berada sebaris di depan tempat dudukku, dan berkata, “Gemboknya kaya gini kan?”

Darah ini mendidih rasanya. “Kurang ajiarrr!!!” kataku dalam hati. Aku tidak tahan lagi.

Sesampainya di rumah…

“Pa, ada teman di sekolah yang suka iseng…”
“Yang mana orangnya?! Besok Papa ke sekolah. Tunjukin yang mana!!” jawab Papaku emosi.
Keisengannya sudah keterlaluan. Dia juga mengisengi teman-teman baikku. Kalau kami berjalan, dan berpapasan dengan dia, mendadak dia merentangkan tangan sehingga kami harus menunduk. Dia hanya tertawa-tawa puas. Dia juga sering mencegatku kalau ingin berjalan keluar masuk kelas ketika istirahat siang. Aku benci ketika jalanku dihalangi. Tapi aku tidak berani melawan, kecuali memendam kekesalan.

Siang itu… keesokan harinya…

Seperti biasa aku dan kedua teman baikku berjalan-jalan mengelilingi gedung sekolah dan ngobrol. Tiba-tiba aku melihat dari arah gerbang sekolah, sosok yang tidak asing.
“Itu Papa! Mukanya tegang…” kataku dalam hati terkejut bukan main. Tak kusangka Papa benar-benar datang ke sekolah.

Bukan kebetulan, si iseng berjalan dalam jarak yang lumayan jauh dari kami, tapi dekat dari Papa. 
“Yang itu…” kataku sambil menunjuk si iseng, dari kejauhan.
Tanpa kusangka, Papa langsung mendekatinya dan …. memelintir lengannya!!! Wih!!

“Ampun Om, ampun Om!” katanya dengan muka merah, kemungkinan besar karena takut dan malu, karena kami melihat adegan itu.
“Sekali lagi kamu ganggu anak saya, saya patahin tangan kamu!!” kata Papa dengan volume keras!
Beberapa detik serasa beku. Detik waktu seolah berhenti… Aku tercengang melihat itu.

Setelahnya Papa berjalan kembali ke gerbang dan keluar dari sekolah. Hmm… mengagumkan!

Sejak itu… sampai lulus dari SD itu, aku bebas, sebebas-bebasnya!! Bahkan kedua teman baikku pun kecipratan. Mereka juga tidak pernah lagi diganggu…

Luar biasa!

Tulisan ini harus kubuat, untuk tetap mengingat kebaikan Papa, daripada aku hanya mengingat kelemahannya…

Terima kasih Tuhan, sebab aku punya Papa yang sooo heroic!😉

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s