Terkena Fitnah

cropped-cover-final.jpgHari itu aku masuk ke gedung baru, untuk bekerja di sebuah divisi yang baru. Sebuah divisi yang katanya terkenal “sangar” karena yang bekerja di dalamnya orang-orang aneh dan “troublesome” plus “troublemaker”. Tapi sayang info ini baru kudapatkan setelah aku masuk dan bekerja di situ. Aku ditempatkan di bagian Finance.

Baru beberapa menit ngobrol dengan teman seruangan (I loved her so much. She was the best colleague in the office), mendadak ada keributan di ruang sebelah. Bukan karena penasaran, tapi aku keluar ruangan karena ingin mengambil air minum. Ternyata oh ternyata, di ruang kepala kantor, aku melihat seorang staf pria berbadan kecil memarahi sang kepala dengan emosional dan hanya ditanggapi dengan ekspresi kaget oleh yang dimarahi. “Speechless” sepertinya. Aku jadi iba sama kepala kantorku yang baru.

“Jangan kaget ya Na. Di sini memang begitu orang-orangnya…” kata temanku. Sebut saja si M.
Fiuh!!… Siapa juga yang kaget… Aku? Enggak dong. Aku nggak kaget. Tapi super duper shocked! Huff…! Bisa-bisanya staff memarahi kepala kantor! Ini kantor model apaan nih?!!!

Pekerjaanku di hari pertama kukerjakan dengan sangat bersemangat. Karena memang sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Tidak seperti mutasi yang sebelumnya. Aku dikelilingi orang-orang yang hanya mengerti soal “berdoa” (sorry to say), tapi tidak mengerti bagaimana bekerja dengan benar. Di divisi yang sebelumnya, logikaku seperti rontok serontok-rontoknya, bagaimana tidak. Satu ketika semua staf diajak berdoa bersama, untuk mendoakan supaya komputer di divisi ini tidak terkena virus, karena yang di kantor pusat sedang banyak yang terinfeksi virus. Selagi berdoa, aku seperti orang kebingungan… Aku berpikir, “Waduh… ini gimana sih … doain apa sebetulnya. Lah wong komputer di sini enggak punya koneksi internet. Mana bisa tertular virus…? Kalau begitu buat apa kita berdoa? Apa yang kita doakan? Kok aneh ya?” Dsb…dsb… Makin tersayatlah hati dan logikaku di divisi ini… sampai akhirnya aku menceritakan kepada seorang teman, dan teman inilah yang merekomendasikanku ke si M agar aku bisa dimutasi ke divisinya. (yang ternyata ‘sangar’ itu tadi). And… here I am… sudah pindah ke divisi baru…

“Na, lu rapiin deh itu voucher-voucher-nya. Terus elu input, udah ada programnya kok.” “Ok M!” sahutku.

Lalu beberapa menit kemudian, ketika mulai kuinput apa yang ada dalam buku tulis catatan staf lain, sebut saja si A, ehm…

“M, kok ini ada selisih 500 ribu ya?”
“Nggak tahu Na. Coba aja tanya ke si A.”

Si A ini, waktu pertama kali kumintai voucher lewat telepon, tidak lama dia membawa dua odner berukuran kecil, lalu membantingnya di mejaku. Di depan si M, dan Pak Y yang sedang bertamu ke ruangan kami.

Aku kaget bukan main…. lalu melihat ke arah si M. M hanya geleng-geleng kepala. Ah… rupaya kantor ini memang aneh… kejadian tadi pagi sudah cukup heboh buatku. Eeee kali ini aku yang langsung kena imbas keanehan yang lain. Padahal seharusnya A tidak perlu kasar kepadaku. Aku kan staf baru. tidak punya kepentingan apapun di situ, kecuali membereskan catatan keuangan divisi ini. Oh!! Mungkin karena ini aku dibenci… 

Aku agak malas sebetulnya berhubungan lagi dengan si A. Tapi tidak berapa lama aku harus menemuinya untuk menanyakan selisih 500ribu itu. 

“Ke sana aja Na, tanya ke si A…” kata M.

“Nanti deh gua ganti!” jawab A ketika kutanya. 

Aku lalu kembali ke ruanganku, dan tidak berapa lama si A masuk, lalu meletakkan uang 500ribu ke mejaku dan berkata, “Nih! Gua ganti aja deh!” lalu dia pergi begitu saja. 

Banyak keajaiban memang di kantor ini. Tapi aku tidak gentar. Hari demi hari berlalu, aku mulai menemukan banyak kecurangan. Ada bapak-bapak sudah berumur yang sengaja mengambil setoran uang kursus dan tidak memberikannya kepadaku. 

“Oh! Sudah bayar ya. Langsung ke Pak B ya?! Ok, ok. Makasih ya…” kataku lalu menutup telepon. Aku iseng melakukan “random check” atas uang-uang kursus yang masuk, dan ternyata kecurigaanku benar… ada yang tidak disetor.

Dengan sangat marah aku menghampiri Bapak B, dan berkata dengan sangat kesal, kenapa kok tidak setor? Karena dia menyangkal, aku terpaksa bilang bahwa muridnya sendiri yang ketika kutagih berkata bahwa uang kursus sudah ia bayarkan ke Bapak! 

“Saya nggak mau tahu, Bapak harus ganti!!” kataku dengan nada tinggi dan langsung berbalik meninggalkan dia. Untuk ini, aku sempat ditegur oleh rekan kerja yang memang seruangan dengan si Bapak. 
“Kamu jangan gitu, sekalipun dia salah, dia kan jauh lebih tua dari kamu…” katanya. Tapi aku benar-benar tidak tahan. Masa hanya dua ratus ribu saja ditilep juga? Kejadian ini sudah lebih dari sekali. Itu sebabnya aku betul-betul marah hari itu. 

Waktu terus berjalan… si bapak sama sekali tidak dijatuhi sanksi apapun. Padahal kami sudah dipanggil dan disidang bersama-sama oleh kepala kantor. Semua sudah jelas, memang dia yang ambil dan pakai uang itu untuk keperluan pribadi. Tapi… Yah… sudahlah… biar saja. Aku sudah pasrah. maksudku, untuk apa aku berlelah-lelah menjagai uang kantor, kalau yang mencurinya sama sekali tidak dihukum, hanya karena pertimbangan “usia” dan “senioritas”…. Tapi untunglah si Bapak tidak lama kemudian dipanggil “pulang” oleh Tuhan. Tugasnya sudah selesai. Tapi masalahku belum selesai…

Aku diminta memeriksa laporan jual beli buku yang dicetak divisi itu. Yang kuperiksa hanya laporan, dimana laporan itu dibuat dalam format yang sangat membingungkan, oleh staf lain yang juga penjaga gudang buku. Sementara aku? Aku tidak sempat memeriksa stok buku, kecuali itu tadi, diberi laporan, disuruh memeriksa apakah sesuai dengan voucher yang ada. Itu saja. Soal stok yang selisih, aku tidak tahu menahu. Soal penjualan yang tidak dicatat dalam laporan, aku juga tidak tahu, karena penjualan bukan lewat aku. Tapi untuk kasus ini….. tujuh tahun kemudian mendadak aku disidang.

Dan di ujung sidang, seorang bapak berambut putih yang pernah “kongkalikong” dengan percetakan agar menuliskan ongkos cetak buku lebih besar dibanding ongkos yang sebenarnya, berkata, “Ya sudah! Kalau gitu Pak C, D dan Erna harus tanggung jawab!!”

Saya hanya diam mendengar itu, karena terus terang saya sedang bingung. Laporan buku yang 7 tahun lalu pernah aku periksa (dan hanya pernah aku periksa 2 atau 3 laporan) itu baru diributkan sekarang, karena ternyata katanya ada selisih jutaan. Mereka seperti mau memfitnah kami, dan harus bertanggung jawab untuk “selisih” tersebut. Padahal, aku tidak pernah terima uang penjualan buku, tidak pernah tahu dan menghitung berapa stok buku, apakah benar sesuai yang dilaporkan si staf, dan tidak pernah tahu menahu, berapa buku dicetak (kecuali hanya mencocokkan dengan kwitansi percetakan yang kuterima dari staf yang sama), semuanya tidak lewat aku tapi sudah diurus oleh staf itu. Kok bisa-bisanya aku dipersalahkan lalu diminta bertanggung jawab? Padahal tidak satu pun dari kami (Pak C, D dan aku) yang menerima uang penjualan buku…. x_x

Seperti kata Ahok, “Saya yang begini saja masih mau difitnah, apalagi kalau saya nggak benar? Habislah saya!”

Ckckckck… divisi satu itu memang divisi yang isinya orang-orang bermasalah yang suka membuat masalah…. Thank God, aku sudah jauh dari situ… 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s