CINTAKU (BUKAN) DI CAUSEWAY BAY – BAB 9

Galau

Dering telefonku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saatku sendiri

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Hmm….. Lirik lagu di atas kucari setelah mendapatkan kiriman link youtube dari Anton. Aku tersenyum sendiri. Lalu membalas emailnya…
“Enak lagunya Ton. Liriknya juga lucu…”

Beberapa detik kemudian teleponku berbunyi. Anton.
“Halo Sa! Minggu depan gua balik Jakarta nih! Ketemuan yuk!”

“O ya?! Dalam rangka apa Ton?”
“Cuti kerja aja 1 minggu Sa. 2 malam di Jakarta, 2 malam di Surabaya, terus balik Jakarta dan balik ke Hong Kong.”
“O.. gitu. Oke. Mau ketemuan dimana?”
Setelah tanggal dan tempat disepakati, selesai. Telepon kumatikan.

Hmm… ada yang aneh. Hatiku berbunga-bunga. Beda banget dengan ketika aku ketemu Aldi. Sudah 1,5 bulan sejak Aldi kembali ke Jakarta, dan kami sepakat untuk menjalani kembali hubungan yang sudah putus. Rasanya biasa saja.

Sepertinya ada yang salah. Tapi aku tidak paham, bagaimana cara membuatnya menjadi benar.

Seminggu berlalu…
“Halo Saaa!!” Anton menyapaku di bandara.
“Halo Ton!” Aku membalas sapaan Anton yang sosoknya masih beberapa meter di depanku. Ketika mendekat aku menyodorkan tangan…tapi…
“Sa!” kata Anton spontan memelukku.
“Hahahaha… Anton… segitu kangennya sama gua yah?!”
“Iyaaa. Hahaha… Yuk Sa! Cari makan! Laper banget gua!”
“Ayok! Kita cari deket2 sini aja?”
“Yuk! Tapi keluar dulu dari bandara!”
“Oke!”

Kami makan, ngobrol, sekitar 3 jam berlalu tanpa terasa. Teleponku pun berbunyi…
“Sa. Lagi dimana? Kok WA-ku nggak kamu balas?”
“Lagi di Jakarta Barat Di. Iya ini lagi sama temen. Kenapa?”
“Jakarta Barat mana? Aku lagi di sekitar sini juga, aku jemput ya?”
“Eh! Nggak usah Di. Aku bawa mobil kok, nanti aku langsung pulang. Lagi ngobrol sama temen, belum selesai..”
“Oke, nanti kabari kalau sudah di rumah ya…”
“Oke.”
Lalu telepon kututup.

“Oh… Aldi. Nyambung lagi Sa?” tanya Anton.
“Ehm… iya… ”
“Kok nadanya kaya terpaksa gitu Sa?”
“Hehehe… ehm… gimana ya…”
Akhirnya aku menceritakan isi hatiku ke Anton, bahwa sebetulnya aku tidak ingin balikan lagi. Tapi aku tidak bisa lari, dan sekarang inilah yang terjadi…
“Menurut gua, elu harus tegas Sa. Untuk apa menjalani hubungan yang lu tahu bakal nggak langgeng…”
“Gua bukan paranormal Di. Gua nggak tau bakal langgeng apa enggak. Gua pikir akan gua jalani dulu. Tapi belum ada perubahan rasanya. Hati gua masih nolak Aldi…. Sampai sekarang..”
“Sa… mau sampai kapan elu hidup nggak nyaman gitu? Apa yang membuat elu terima dia lagi kalau ternyata elu nggak mau? Elu pun buang-buang waktu..”
Apa yang dikatakan Anton benar. Aku buang waktu. Tapi itu dia alasannya…
“Siapa tahu bisa kembali seperti dulu Ton…”
“Sa… menurut gua sih, kali ini lu harus percaya sama hati elu…”
Waduh! Tiba-tiba aku terhenyak.
Kalau soal hati… aku yakin aku sudah nggak suka sama Aldi. Bahkan sekarang malah menyukai pria yang ada di depanku. Tapi kan nggak mungkin aku yang duluan ngomong ke Anton kalau aku suka sama dia.
“Sa… kenapa diem?”
“Eh… ehm… lagi mikir, bener juga elu ngomong barusan. Hati gua memang lagi galau, tapi gua tahu pasti gua nggak mau lanjut sama Aldi sebetulnya… Gua mesti gimana ya Ton?”
“Hmm… ok gini aja. Menurut gua, elu harus berani ngomong ke Aldi apa adanya. Bahwa elu nggak bisa lanjut lagi. Jadi temenan aja. Mungkin akan lebih baik ke depannya. Karena kalau gua liat, hubungan elu justru memburuk kalau elu terusin kaya gini. Betul ngga?”
“Iya sih… Nanti malam kayanya Aldi mau ke rumah, karena dia tadi minta gua info dia kalau udah sampai rumah. Gua jadi males pulang ke rumah…”
“Hahaha… Sa… Sa… hadapi dong. Jangan gitu ah! Everything will be ok kok. Trust me! Nanti lu bisa kasih tau gua kabar malam ini. Kita ketemu besok lagi, bisa? Sekarang gua udah harus jalan pulang. Ortu udah nunggu, malam ini mau ada acara pernikahan sepupu gua. Gimana?”
“Iya. Thank you ya Ton…”
Setelah Anton membayar tagihan makan, kami pun berpisah. Anton naik taksi pulang ke rumahnya. Aku juga keluar dari rumah makan itu dan mengemudikan mobil untuk pulang ke rumah.

To be continued:
https://godmeandmydiary.wordpress.com/2016/12/03/cintaku-bukan-di-causeway-bay-bab-10/

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Fiksi/Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s