MAMAH, Rumah Tangga, dan Mesin Cuci


1Mamah. Adalah kata yang biasa aku pakai untuk memanggil Mamaku. Waktu itu Mama pernah bercerita tentang kehidupannya di hari pertama setelah menikah. Isi kisahnya membuatku kaget, haru, kagum, dan sekaligus emosi. Aku lalu berkomentar cepat selesai mendengar cerita Mama. “Kalau itu aku, pasti aku sudah pulang ke rumah orangtua…!”

Di hari pertama menikah, ayahku mengambil semua uang yang diberikan kerabat Mama untuk membayar hutang atas penyelenggaraan pesta pernikahan. Tanpa seijin Mama. Padahal, itu haknya Mama. Dan harusnya Mama bisa gunakan untuk simpanan jika sewaktu-waktu ada kondisi darurat. (Sampai sekarang sifatnya yang pintar mengelola uang masih sangat nyata terlihat). Mama kesal amat sangat waktu itu katanya. Tapi toh… Mama masih jadi Mamaku, dan tinggal bersama Papaku. Hebat kan… !

Kehebatan Mama yang lain masih banyak… Antara lain… 

Ayahku tinggal bersama dalam satu atap dengan enam saudara kandungnya yang lain. Tidak semuanya bersikap baik ke Mama yang harus masuk dalam “keriuhan” rumah yang baru. Ini membuatku makin salut.

“Mamah hebat loh!” kataku memuji.
“Mamah kok betah sih? Kok bisa hidup kaya gitu? Coba jaman sekarang Mah. Pasti sudah cerai. Nggak gampang loh bisa hidup dan tinggal bareng dengan orang lain, yang tidak punya hubungan darah, belum pernah bertemu dan tinggal bersama, dan yang pasti punya sifat dan kebiasaan masing-masing yang pastinya mengagetkan. Kok Mamah bisa sih?” tanyaku “tanpa titik koma”.

“Ya mau apa lagi. Namanya juga sudah nikah…” begitu jawab Mama, singkat, datar, tanpa emosi. 

“Mungkin karena ibu-ibu jaman dulu ngga punya pekerjaan ya Ma. Kan kalau jadi istri ya memang harus terima nasib sebagai istri. Tapi kalau jaman sekarang, istri pada pinter kerja. Bisa cari uang sendiri. Jadi kalau ada masalah, sewaktu-waktu gampang aja cerai…”

“Iya mungkin,” kata Mama sambil menerawang. Mama sepertinya tidak akan pernah mengerti, kenapa dia bersikap seperti itu. Sebab itu menurutnya bukan sebuah kehebatan, melainkan wajar saja. Jadi istri ya begitu. Mau apalagi. No choice. Mungkin sikap bersahaja Mama ini yang membuat Papa mendadak berhenti mengikuti ajakan teman-temannya “hang out”.
“Kok bisa berhenti main sama teman-teman?” tanyaku ke Papa.
“Nggak tahu. Ya tiba-tiba aja nggak mau lagi,” jawab Papa. 

Mama… luar biasa… Aku sayang banget sama Mama.

Kesabarannya luar biasa. Kesederhanannya luar biasa. Entah itu yang tampak luar, maupun kesederhanaan dalam berpikir. Mama nggak pernah mikir macam-macam. Bahkan setiap kali aku mengeluh karena sakit kepala, atau mendadak sakit apa, Mama selalu cuma bilang, “Nggak apa-apa. Nanti juga sembuh!” Santai. Ringkes. Nggak pake ribet.

Kesederhanaannya juga yang membuatku selalu tahu diri. Betapapun aku ingin punya sepatu olahraga bermerek seperti teman-teman sekolah lain, aku tidak pernah sekalipun merengek minta yang sama. Setiap kali aku butuh uang untuk keperluan biaya sekolah, Mama selalu mengambil kunci dan membuka lemari lalu memberiku uang sesuai yang kuminta (aku tidak pernah meminta lebih). 

Kerajinannya mengerjakan pekerjaan rumah membuatku, lagi-lagi, jadi tahu diri. Setiap pagi begitu keluar dari kamar, Mama selalu membuka pintu teras, membenahi cucian yang masih bergelantungan, lalu yang sudah kering diambil dan ditaruh ke dalam keranjang bulat berwarna biru di atas meja seterikaan.

Setelah itu? Ya! Mama mulai mengambil cucian yang kotor, lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci. Busanya terkadang masih tertinggal walaupun si mesin sudah selesai bekerja, sehingga Mama harus mengulang proses “spin”, baru bisa menjemur pakaian-pakaian itu. Aku jadi kepingin menghadiahi Mama mesin cuci baru… Ya! Mesin cuci baru! 

Aku pun membuka Elevenia, dan mendapatkan yang ini:
http://www.elevenia.co.id/prd-lg-f1014ntgw-mesin-cuci-front-loading-14-kg-w-motion-dd-inve-14350473

Cocok sih! Bisa mencuci sekaligus banyak, sesuai kemauan Mama. Hemat listrik dan hemat air, yang berarti hemat biaya.

Buat Mama yang sungguh adalah sosok pribadi terbaik yang akan selalu jadi teladanku, selayaknyalah Mama juga mendapatkan yang terbaik!

 

Advertisements

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s