MAMAH…

Cover FinalMamah. Adalah kata yang biasa aku pakai untuk memanggil Mamaku. Waktu itu Mama pernah bercerita tentang kehidupannya di hari pertama setelah menikah. Isi kisahnya membuatku kaget, haru, kagum, dan sekaligus emosi. Aku lalu berkomentar cepat selesai mendengar cerita Mama. “Kalau itu aku, pasti aku sudah pulang ke rumah orangtua…!”

Di hari pertama menikah, ayahku mengambil semua uang yang diberikan kerabat Mama untuk membayar hutang atas penyelenggaraan pesta pernikahan. Tanpa seijin Mama. Padahal, itu haknya Mama. Dan harusnya Mama bisa gunakan untuk simpanan jika sewaktu-waktu ada kondisi darurat. (Sampai sekarang sifatnya yang pintar mengelola uang masih sangat nyata terlihat). Mama kesal amat sangat waktu itu katanya. Tapi toh… Mama masih jadi Mamaku, dan tinggal bersama Papaku. Hebat kan… !

Kehebatan Mama yang lain masih banyak… Antara lain… 

Ayahku tinggal bersama dalam satu atap dengan 6 saudara kandungnya yang lain. Tidak semuanya bersikap baik ke Mama yang harus masuk dalam “keriuhan” rumah yang baru. Ini membuatku makin salut. “Mamah hebat loh!” kataku memuji. “Mamah kok betah sih? Kok bisa hidup kaya gitu? Coba jaman sekarang Mah. Pasti sudah cerai. Nggak gampang loh bisa hidup dan tinggal bareng dengan manusia-manusia yang sifatnya luar biasa ajaib-ajaib dan mengagetkan. Kok Mamah bisa sih?”

“Ya mau apa lagi. Namanya juga sudah kawin…” begitu jawab Mama, singkat, datar, tanpa emosi. 

“Mungkin karena orang jaman dulu ngga ada kerjaan ya Ma. Kan kalau jadi istri ya memang harus terima nasib sebagai istri. Tapi kalau jaman sekarang, istri pada pinter kerja. Bisa cari uang sendiri. Jadi kalau ada masalah, sewaktu-waktu gampang aja cerai…”

“Iya mungkin,” kata Mama sambil menerawang. Mama sepertinya tidak akan pernah mengerti, kenapa dia bersikap seperti itu. Sebab itu menurutnya bukan sebuah kehebatan, melainkan wajar saja. Jadi istri ya begitu. Mau apalagi. No choice. Mungkin sikap bersahaja Mama ini yang membuat Papa mendadak berhenti mengikuti ajakan teman-temannya “hang out”.
“Kok bisa berhenti main sama teman-teman?” tanyaku ke Papa.
“Nggak tahu. Ya tiba-tiba aja nggak mau lagi,” jawab Papa. 

Mama… luar biasa… I love her sooo much!!

Kesabarannya luar biasa. Kesederhanannya luar biasa. Entah itu yang tampak luar, maupun kesederhanaan dalam berpikir. Mama nggak pernah mikir macam-macam. Bahkan setiap kali aku mengeluh karena sakit kepala, atau mendadak sakit apa, Mama selalu cuma bilang, “Nggak apa-apa. Nanti juga sembuh!” Santai. Ringkes. Nggak pake ribet.

Kesederhanaannya juga yang membuatku selalu tahu diri. Betapapun aku ingin punya sepatu olahraga bermerek seperti teman-teman sekolah lain, aku tidak pernah sekalipun merengek minta yang sama. Setiap kali aku butuh uang untuk keperluan biaya sekolah, Mama selalu mengambil kunci dan membuka lemari lalu memberiku uang sesuai yang kuminta (aku tidak pernah meminta lebih). 

Mamah… she is the best person in my life!!

Thank you God…  for giving me the best mom in the world!

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s