True Friend is…

Cover FinalI have a friend. Let’s say his name is Pren. Tanpa sadar si Pren sudah berbuat banyak hal yang baik untukku. Bahkan begitu menjagai aku dari orang-orang yang bisanya cuma memanfaatkanku, atas nama perasaan atau hati.

Sudah beberapa lama aku baru sadar bahwa aku punya kekuatiran yang luar biasa mengganggu.

Sebelum sampai pada itu, biarkan aku bercerita ini dulu…

Mataku ini sepertinya kurang sipit. Atau bentuk sipitnya beda dengan sipit-sipit yang diinginkan untuk bisa dilirik pria-pria yang menginginkan pemilik mata sipit. Tepatnya beberapa pria yang sempat kusukai, tapi ternyata memilih wanita lain yang lebih sipit. Eh, sipitnya beda. Yah, kira-kira begitu.

Setelah kerusuhan Mei 1998 lalu, bulan Novembernya aku pergi ke negara singa. Niatnya untuk mencari pekerjaan, dan bye-bye untuk tak pernah lagi kembali. Sebab kerusuhan itu betul-betul membawa trauma yang masih membekas kuat, bahkan sampai sekarang. (Sampai kejadian 4 November 2016, membuatku sulit tidur. Pendemo ingin disamakan seperti para mahasiswa yang menduduki gedung MPR DPR untuk melengserkan Presiden yang berkuasa waktu Mei 98 lalu. Oh man… come on…)

Lets back to my story…

Begini…

Di negara yang mayoritasnya chinese itu tadi, aku pernah ditanya, “Are you Chinese?”
Buatku itu pertanyaan paling bodoh yang diajukan oleh warga negara situ dalam interview pekerjaan kepadaku.
Dalam hati aku ingin menjawab, “Of course I am chinese!!” (Cuma memang gua kagak bisa bahasa Mandarin, karena lebih fasih berbahasa Jawa…!)

Kalau disitu ada yang meragukan jati diriku, di negara sendiri pun ke-chinese-anku pernah diragukan. Hanya bedanya, di sini aku sangat ingin diketahui kalau aku memang chinese, sementara di negara sendiri, jati diriku membuatku beberapa kali ketakutan padahal tidak bisa kusembunyikan, walaupun ingin.

Waktu itu aku pernah mengisi BBM di sebuah pom bensin dekat rumah, seseorang mulai rese dan berkata, “Neng… neng… Bukan cina kan. Neng orang kita semua kan…?”
Aku langsung masuk ke dalam mobil, tanpa kugubris. Selain takut, aku tahu itu hanya iseng dan tidak perlu ditanggapi.

Ok. Let’s keep the story. Aku akan bercerita kisah lain, yang akhirnya membawaku kepada kesadaran ini.

Hari itu tanggal 4 November 2016. Semua informasi sepertinya kali ini sepakat bahwa akan atau bakal terjadi kerusuhan seperti bulan Mei 1998. Dan bahkan, tujuannya sama, yaitu menjatuhkan Mr President yang aku bangga-banggakan. Dari sore tanggal 3 November, aku sudah was-was. Sampai malam tgl 4 itu, aku masih was-was. Aku mencium ada ketidakberesan dari para pendemo yang bisanya berteriak-teriak “Bunuh! Matiin! Anjing! Babi!”… Dua hewan ini mendadak ngetop setiap kali ada pendemo model begini… (sorry to say…).

Dan malam itu aku lelah… kelelahan tepatnya. Mentally. No one knows about this. Kakakku yang kuajak berkomunikasi lewat media chatting masih dengan penuh iman berkata bahwa “Masih ada Tuhan! Aman! Tidak akan ada apa-apa!” Tapi aku? Aku lelah karena diperangkap rasa takut… 

Malam sebelum tidur, sekitar pukul 12 malam, seorang teman menelepon dan menanyakan kabar, “Apakah aman?”
Aku menjawab “Iya sepertinya aman…”
Tapi setelah telepon ditutup, aku masih sibuk memantau keadaan lewat Twitter. Aku masih sempat melihat foto Mr President rapat dengan beberapa menterinya. Dan sempat melihat bahwa Mr President akan berpidato selepas rapat. Tapi kepalaku sudah sangat berat… tidak kuat… lalu aku tertidur dalam pasrah. 

Belasan jam setelah itu, aku seperti ada di titik nol. Tapi ajaibnya… justru di saat aku merasa drop, aku tersadar…

Ya! Aku sadar betapa kuatirnya aku, sampai aku lupa bahwa masih ada Tuhan. Rasanya momen itu membuatku kembali bangkit dalam iman. Aku percaya Tuhan masih memegang kendali atas semuanya. Kekuatiranku toh tidak merubah apapun menjadi makin baik, kan? Bahkan membuat kondisiku makin buruk secara mental. Lalu untuk apa terus kuatir?

Thank God, detik itu aku tersadar… Ya! Masih ada Tuhan. Bahkan ketika aku melihat tayangan-tayangan provokatif dari seorang tokoh yang mengaku beragama tapi keahliannya hanya membuat rusuh, aku tersadar bahwa, kalau Tuhan masih memberinya kesempatan hidup, seburuk apapun kehidupannya ia gunakan, itu artinya Tuhan masih punya rencana untuk kebaikan bagi setiap orang, entah buat dirinya, atau buat orang-orang yang ia rugikan. Tapi… kalau sampai dia berani menyombongkan diri di atas Tuhan Sang Pencipta… aku yakin nasibnya akan sama seperti orang-orang yang pernah berlaku sama. Selesai sudah… Beres kan? Simpel. 

Dan detik itu aku juga sampai pada kesimpulan bahwa, jodoh pun tidak perlu dikuatirkan. Tidak perlu sampai begitu terpuruk atau bodoh atas nama cinta. Aku menolak dibodohi, dan memilih untuk mencari nasihat kepada sahabat2ku. Salah satunya si Pren. 

Terbukti Pren, elu memang the true one! True friend will always be there to support me… walaupun aku tidak punya kesipitan serupa, temanku itu selalu berkata bahwa, “You deserve the best! Elu baik. Elu punya banyak kriteria yang layak untuk diperjuangkan oleh the right man! Jadi elu nggak perlu kuatir…” kira-kira begitu katanya… 

And most of all. Thank you God…

Tuhan sudah mengembalikanku kepada level yang normal… 

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Faith, Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s