God sets me free. Indeed…

Cover Final“9 Desember 2010. Yakin. Nggak salah.”

Itu jawabanku atas pertanyaan kakak. Dia berniat pergi ke negara sebelah untuk menengok abu kakak yang pertama. Tapi ternyata sudah dicek sana-sini dikatakan tidak ada.

Kami juga tidak mungkin menghubungi “suami” yang entah mabur kemana sejak kakakku meninggal.
“Tahu gitu kita bawa pulang aja ke Indonesia ya abunya,” kataku.

“Daripada dibuang sama dia (the husband),” lanjutku.

“Sudahlah buat apa. Dia sudah senang di surga sana…” jawab kakakku.

“Nanti aku ke situ juga paling cuma bisa nangis…” lanjutnya.

Kami harus merelakan kepergian kakak 6 tahun lalu (sekali lagi, hari ini). Dengan peristiwa yang membuat hati ini marah, sedih, kesal, dan lain-lain sampai akhirnya pasrah. Manusia tercipta dari debu, toh akan kembali ke debu lagi. Iman kami satu. Roh kami akan kembali ke Sang Pencipta. Dan kakakku sudah tenang di sana.

Mungkin dia punya banyak pergumulan hidup yang tidak pernah bisa dia ceritakan ke yang lain, seiring dengan kesibukannya dan ketakutannya melawan penyakitnya yang baru terdeteksi 3 atau 4 bulan terakhir sebelum dia tak lagi bernafas…

9 Desember 2010. Di tahun yang sama, hidupku juga sedang galau, kembang kempis. Bulan Agustus di tahun yang sama, aku bertemu seseorang yang kupikir bisa dijadikan teman seumur hidup. Nyatanya di tahun itu juga, aku harus mendapati banyak keganjilan yang kusimpan sendiri.

Masih ditambah dengan berita kakak yang mendadak sakit parah. Membuat hidupku waktu-waktu itu seperti sebuah mimpi buruk.

Untunglah, hidup ini memang bagaikan mimpi. Yang buruk dan seburuk apapun, toh akan berlalu.

Ya. Enam tahun lalu. Kesedihan itu masih ada bekasnya sampai sekarang.
“Salah kawin!” kata kakakku.

Mendapatkan pasangan yang membahagiakan memang tidak gampang. Buatku sekali pengalaman buruk sudah cukup untuk membuatku jadi sangat pintar melihat dan meneropong. Mencari kesempurnaan? Memang mustahil. Tapi setidaknya tidak membuat hidup yang masih sendiri ini malah bertambah buruk bukan? Yup!

Menikah itu seumur hidup. Bukan elu mati, gue hidup. Bukan juga gue hidup elu mati. Penderitaan kan harus ditanggung bersama. Kaya kuk yang dipasang di atas pundak 2 sapi mungkin analoginya. Kalau sapi yang satu lebih gagah dan nggak mau berjalan barengan dengan sapi yang lain, buat apa? Mending sama sekali tidak pernah berdampingan. Gak ada gunanya.

Kata si Pren, “Kalau hidup kamu setelah merit nggak lebih hepi daripada waktu kamu single, buat apa? Kamu harus dapet orang yang sayang sama kamu. Perhatian. Bisa kasih tindakan, bukan cuma omdo.”

Setujulah… Pengalaman buruk 1 kali, sudah lebih dari cukup. I am happy as I am. Dekat dengan orang-orang yang aku sayang dan menyayangiku, sudah lebih dari cukup. Enerjiku bukan untuk dihabiskan memikirkan keruwetan hubungan yang tidak sehat (seperti waktu itu). Kata orang, makan cinta memang ga cukup. Hidup cuma pake cinta juga ngga bisa. Orang harus smart, jadi pilihlah pasangan yg smart, jangan yg oneng… 

I am free… God sets me free. Indeed…

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Faith, Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s