Puding Coklat

Cover FinalDua malam menginap di rumah kakak dan menjagai satu anak usia ABG itu rasanya….Hmm…

Hari pertama, aku bangun jam 5 pagi. Oh! Semalam tiba di rumahnya, sekitar pukul 8 lewat, aku melihat piring, sendok, dll masih dalam keadaan kotor, belum dicuci. Kegiatan cuci-mencuci pun dimulai. Lalu aku berbelanja beberapa kebutuhan “instan” seperti keju slice, chicken nugget ukuran kecil, roti tawar tanpa pinggiran, mayonaise, puding coklat instan dan keripik kentang. Untuk sarapan pagi.

Setiba lagi di rumah, aku menggoreng 4 potong nugget, menaruhnya dalam piring kecil, ditambah mayonaise dan kripik kentang. Dua potong kumakan, sisanya aku berikan si bocah. 

“Dessert Mike!” kataku.
“Thank you Iik!” balasnya.

Tidak berapa lama, dia keluar kamar dan menaruh piring kecil itu di atas meja makan. Aku lihat masih tersisa beberapa keripik kentangnya. Lalu kuhabisi. Eh! Kuhabiskan. Kegiatan cuci-mencuci masih berlanjut. Lalu aku membuat puding coklat.

Setelah itu aku tidur sekitar pukul 10.30. Tapi… seperti biasa, aku tidak nyenyak. Dan jam 5 tepat, alarm HP-ku berbunyi. Aku bangun. Kepala kliyengan. Mulai menggoreng. 2 telor mata sapi. Menaruhnya di atas roti dan keju yang sudah diolesi mayonaise. Menutupnya lagi dengan 1 lembar roti. Dua set kubuat sama. Lalu kutaruh di atas meja makan. Kukeluarkan susu kemasan dari dalam kulkas. Lalu buru-buru membangunkan si bocah. 

“Bangun Mike! Sudah setengah enam! Di meja ada roti, telor, keju, kalau mau sarapan.” kataku. Lalu aku mandi. Siap-siap diantar supir yang… ah! ternyata tidak masuk karena sakit, katanya. Ya sudah, aku yang mengantar Mike ke sekolah, lalu berangkat ke kantor. Pukul 7 pagi sudah nongkrong di kantor. Hari itu luar biasa… kepalaku rasanya panas. Konsentrasi menurun kemungkinan kalau diukur bisa-bisa sekitar 30%. Ngantuknya bukan main.

Malam kedua, aku membeli ayam goreng, tempe bacem dan nasi untuk Mike makan malam. Cuci-cuci piring. Dan mengeluarkan puding coklat dari dalam kulkas, setelah selesai makan malam.

“Dessert Mike! Puding coklat. Kalau mau lagi ada di kulkas,” kataku.
“Thank you Iik!” balasnya. 

Setelah itu aku mau berberes sebelum besok kutinggal. Dan ini yang mau kuceritakan dari tadi….

Aku melihat si puding masih cukup banyak di dalam wadah piring makan yang terlalu lebar kalau mau disimpan dalam kulkas untuk besok. 

Mendadak aku teringat Mama. Kebiasaannya memindah-mindahkan makanan dari wadah besar ke wadah kecil yang membuatku kesal, kali ini membuatku terharu… Aku baru bisa mengerti, kenapa Mama melakukan itu. Padahal dulu aku pikir, justru tidak praktis. Karena harus mencuci piring lebih banyak lagi kan… 

Malam itu, aku meniru persis apa yang Mama lakukan.Aku potong-potong si puding, lalu memindahkannya ke dalam mangkok kecil, baru kumasukkan lagi dalam kulkas. 

Pagi besoknya?

Ritualku sama. menggoreng telor, menyiapkan roti, lalu menggoreng nasi, tapi karena keasinan, maka nasi kubawa ke kantor, untuk nanti bisa dicampur dengan nasi lain… x_x

Yang penting aku mendapatkan sesuatu…

Puding coklat itu sudah mengajariku untuk mengerti, betapa ada banyak hal yang dilakukan orangtuaku, yang terlihat sepertinya remeh-temeh dan tidak penting, ternyata punya banyak makna dan manfaat! (jangan diremehkan…)
Yeah!! 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s