Bete VS Bete

Di suatu sore, setelah beberapa hari mengalami bete tanpa bisa saya salurkan/ceritakan kepada orang lain. (Saya murni wanita, yang harus “ngoceh” sebagai penyaluran apa yang terpendam dalam hati, jadi karena belum ketemu pendengar yang tepat, maka saya tidak tahu bagaimana mengatasi kebetean saya ini). Terjadilah sesuatu hal yang menambah kebetean saya.

Sebut saja si A. Entah kenapa, hari itu dia membalas kalimat yang saya ucapkan dengan nada “nggak enak”. Saya cuma diam. Saya menjauh dari dia, dan merenung. Nyaris menangis, karena kesal. Saya lalu melanjutkan menyelesaikan pekerjaan saya, dan beberapa menit kemudian…Saya mendapatkan pengertian.

Yaitu bahwa si A sedang dalam kondisi bete juga. Karena sebelum dia membalas kalimat saya, dia sempat mengeluhkan sesuatu. Jadi pasti suasana hatinya sedang bete saat itu. Tapi saya kurang tanggap. Untunglah tidak saya balas. Bisa perang mulut yang menghabiskan energi.

Beberapa menit kemudian. Pengertian itu ternyata benar. Dia mengaku kalau sedang bete.

Ah!! Sesimpel itu masalah selesai. Bete VS bete. Saya diajar Tuhan untuk mengerti orang lain. Sekaligus menyadarkan saya bahwa selama ini saya egois, tidak mau tahu kenapa orang lain menyebalkan, mengesalkan, dll. Buat saya (dulu) kalau saya bersikap baik, orang lain juga harus baik. Padahal tidak bisa terus seperti itu, karena seperti sikap saya pun yang kadang aneh dan buruk, itu karena terpengaruh oleh suasana hati yang sedang bete karena satu dan lain hal yang tidak bisa saya ungkapkan….

Tuhan baik…. Dia mengajar saya sesuatu yang berharga hari itu…

Leave a Comment

Filed under Relationship

Kisah Kegagalanku

Kisah sukses orang lain seringkali mbuat kita berani bmimpi, tapi kisah kegagalan orang lain membuat kita berani melangkah!

Itu yang dikatakan oleh adik saya satu hari. Dia bercerita bagaimana jika jemaat/pendeta yang kesaksian di belakang mimbar gereja menceritakan saat dimana mereka gagal. Entahkah itu gagal menerima jawaban doa, entahkah itu gagal percaya kepada Tuhan, gagal dalam hal apapun. Tentu orang yang mendengarnya merasa seperti “ditemani” alias “tidak sendirian”.

Banyak kali orang merasa “tidak layak”, “tidak mampu”, “tidak pintar” dan sebagainya, dan justru semakin “ciut” ketika mendengar kisah-kisah keberhasilan orang lain atau kesaksian ketika mereka mendapatkan pertolongan Tuhan. Padahal, sebelum kesuksesan/pertolongan Tuhan itu didapatkan, pasti didului oleh pergumulan, perjuangan, ketakutan, putus asa, kuatir, kecewa, tawar hati, sebelum akhirnya “happy ending”.

Tapi sayang, yang diangkat ke permukaan justru “ending”nya saja. Hmm… Beranikah kita menceritakan kegagalan kita?

Satu hari kelak, saya bermimpi buku yang berisi kisah-kisah kegagalan saya akan terbit dan dibaca semua orang. Setidaknya kisah-kisah kegagalan itu akan membuat setiap yang membaca berani untuk melangkah! Dan menganggap bahwa menjadi gagal itu biasa… yang tidak biasa adalah, ketika kita terus tinggal dalam kegagalan itu! (kalau itu yang kita lakukan, kita tidak sadar bahwa kita dicipta Tuhan sebagai “penakluk bumi dan segala isinya”!)

Leave a Comment

Filed under Life

Bapa, Sentuh Hatiku…

Kabarnya, lirik lagu ini terinspirasi dari seseorang yang mengalami pengalaman sangat mengerikan. She was rapped by her own father many times, kalau ga salah. 

Everyone of us has problem. Sometimes big, sometimes huge and so overwhelming, but sometimes small. Not to mention any of my problems I’m facing, I think this time I really want to sing this song (which makes me understand that my fave verse in Rome 8:28 fits it!)

Betapa kumencintai segala yang tlah terjadi
Tak pernah sendiri jalani hidup ini selalu menyertai
Betapa kumenyadari di dalam hidupku ini
Kau slalu memberi rancangan terbaik oleh karena kasih

Bapa, sentuh hatiku, ubah hidupku menjadi yang baru
Bagai emas yang murni Kau membentuk bejana hatiku
Bapa, ajarku mengerti sebuah kasih yang selalu memberi
Bagai air mengalir yang tiada pernah berhenti….

Leave a Comment

Filed under Life

Semua Sia-sia (Meaningless…)

Menurut Alkitab, Salomo orang yang paling berhikmat di muka bumi ini. Dan menurut orang yang paling berhikmat tersebut, hidup ini sia-sia. “Everything is meaningless”, begitu tulisan dalam bahasa Inggrisnya. Semua tidak berarti. Kenapa? Karena toh semua akan berlalu. Hal baik berlalu, orang baik berlalu (baca: meninggal), hal buruk berlalu, orang jahat pun pasti berlalu.

Seorang teman berkata, “Kalaupun kita sudah mencapai idealisme yang kita inginkan, toh hanya begitu-begitu saja kok rasanya.” Saya setuju.

 Banyak hal dalam hidup yang saya idealkan harus terjadi seperti yang saya mau. Ada beberapa hal yang kesampaian, tapi banyak juga yang tidak sampai pada batas idealisme saya. Ketika sampai, toh begitu-begitu saja (tepat seperti yang dikatakan oleh teman saya tadi, itu sebabnya saya setuju). Dan ketika tidak sampai, saya stres, tidak bisa bersyukur, menjadi sangat labil emosinya, dll. Melelahkan. Dan merugikan. Buat apa seperti itu?

Satu hari seseorang pernah berkata kepada saya, “You have everything, but you can not enjoy!” Shock rasanya dibilang begitu. Tahu darimana? Yang pasti dari Tuhan, karena no one knows apa yang saya alami dan rasakan dalam hati. Saya termasuk orang yang tidak bisa “berpikir” santai. Kata teman saya, “terlalu pemikir”.

Beberapa waktu lalu, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa, Salomo benar! Teman saya benar! Semuanya sia-sia. Semua akan berlalu. Jalani hidup dengan berserah. Kepada Tuhan. “Lalu apa dong Tuhan yang tidak sia-sia?” tanya saya. Jawaban ini yang muncul di hati, “Hati yang mengasihi Tuhan, tidak akan sia-sia. Segala sesuatu boleh berlalu. Bumi dan segala isinya yang selalu berubah dan tidak bisa diandalkan. Hal buruk yang sedang menanti di depan. Hal baik yang terjadi untuk sementara waktu. Apapun itu tidak boleh merubah kondisi hati. Saya HARUS tetap cinta Tuhan, apapun yang terjadi. Karena itu saja yang tersisa… dan tidak akan sia-sia.

Dan lagu ini pun muncul….
“Meskipun badai silih berganti dalam hidupku… Kutetap cinta Yesus selamanya…..”

Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” (Pengkhotbah 12:1)

(Semoga tulisan ini bukan sekedar tulisan muluk. Tapi akan selalu saya ingat selama hidup….)

1 Comment

Filed under Love

Melawan Godaan…

“Na! Nanti baliknya kita lewat situ ya! Aku takut ga kuat kalau liat tas itu lagi. Daripada aku nanti tergoda untuk beli,” kata E, teman saya.
“Ah! Panas lewat situ,” jawab saya.
“Ya udah, aku lewat situ deh, kamu situ!” katanya.

Maka berpisahlah kami. Saya lewat jalan dimana berjejer baju+tas yang dijajakan para pedagang bazzar. Dan si E lewat di pinggirannya, yaitu di tepi parkiran mobil dengan posisi jalan lebih rendah dibanding jalan yang saya lalui.

Ada tipe orang yang harus benar-benar “menghindar”kan dirinya dari “godaan” berbelanja barang yang tidak perlu. Saya tidak seperti itu. Si E, asal matanya tertumpu kepada persentase diskon, dia langsung tergiur dan beli. Saya bingung dan bertanya-tanya, buat apa? Begini jawabnya: “Mumpung diskon!” Padahal barang yang sama masih dimilikinya di rumah. X_X

Tapi saya menghargai “tindakan”nya tadi. Menghindar! Karena dia tahu dan sadar bahwa dia tidak bisa menahan dirinya terhadap godaan.

Buat saya, godaan itu adalah kalau saya melihat “gorengan”! apapun itu, asal gorengan judulnya… saya seperti harus berperang dan berjuang keras supaya tangan ini jangan sampai terulur untuk mengambil dan memakannya. Beberapa kali gagal. Tapi akhirnya saya bisa mengendalikan diri (maksud saya “cukup bisa”). Whew!

Apa godaan yang suliiiitt untuk kita atasi? Latihlah diri kita dengan ini: MENGHINDAR ketika kita tahu bahwa kekuatan kita pasti kalah melawan si godaan.

Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. (Yakobus  1:14)

1 Comment

Filed under Life

Tidak dipercaya itu biasa… Yang luar biasa?

Setiap orang pasti pernah mengalami “dipertanyakan” oleh orang lain. Seolah kita tidak dipercaya. Entah oleh atasan di kantor, rekan kerja, rekan bisnis, teman kuliah, teman gereja, orangtua, dll. Saya punya pengalaman pribadi… Begini ceritanya…

“Kamu kemana aja?! Udah malem kok baru pulang?!” kata mama ke saya satu malam.
“Pergi sama T (seorang teman baik yang memang seperti “supir taxi, karena punya “karunia” mengantarkan teman-teman yang rumahnya jauh-jauh selesai acara di gereja),” jawab saya lirih karena agak shock kok ditanya dengan nada keras seperti itu.
Mama saya masih sempat mengeluarkan 1 kalimat dengan nada kesal setelah saya jawab.

Saya cukup sedih, karena tidak dipercaya. Padahal selama ini saya tidak pernah “macam-macam”. Teman-teman saya juga anak baik-baik semua. Waktu itu umur saya sudah nyaris 30. Saya diperlakukan seperti anak kecil.

Satu kali saya juga merasa tidak dipercaya oleh papa. Umur saya sudah di atas 30. Saya juga tidak pernah melakukan hal-hal yang menurut saya bisa dijadikan “dasar” kenapa saya tidak dipercaya. Tapi ini yang mengharukan…

“I believe in you,” adalah kalimat yang tiba-tiba muncul di hati waktu saya begitu sedih ketika sedang dalam pelayanan di gereja karena masih merasa “tidak dipercaya”.

Betapapun saya menjaga catatan hidup saya bersih, orang lain tetap akan mempertanyakan. Faktornya banyak. Kurang komunikasi. Kurang dekat. Kurang terbuka. Ada unsur iri hati, fitnah pun muncul. Dan lain-lain faktor mungkin ada. Tapi terlepas dari itu semua, pelajarannya adalah ini: tidak dipercaya orang lain itu biasa. Nah, yang luar biasa adalah, ketika kita tetap bisa menjaga integritas pribadi (tetap melakukan yang benar) sekalipun orang lain mempertanyakan diri kita.

Waktu yang akan membuktikan bahwa kita adalah orang yang bisa dipercaya. Dan ingat ini: Tuhan juga yang akan memberikan pembelaannya kepada kita, tanpa kita duga caranya seperti apa. Bahkan berbicara seperti ini kepada kita: I believe in you… sekalipun orang-orang lain tidak memercayaimu….

Jangan pernah menyerah untuk selalu hidup benar, karena Tuhan sangat percaya bahwa kita mampu hidup benar!

Bahkan ketika orang-orang salah memahami kita, Tuhan tidak pernah salah paham terhadap kita…

Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku. Mazmur  27:10

3 Comments

Filed under Love

Kalah Oleh Waktu…

Dulu, saya suka diberitahu untuk tidak sering-sering mengucek mata. “Nanti matamu “keriput” loh!” begitu kata orang. Tapi saya cuek saja. Saya tidak pernah menyangka kalau seiring berjalannya waktu akan ada guratan2 halus dan banyak di sekitar mata setiap kali saya tersenyum manis (terlebih kalau tersenyum lebar atau tertawa ngakak). Sekarang saya menyesal karena semua sudah terlambat.

Dulu saya suka diberitahu untuk “merawat wajah”. Paling tidak memakai pelembab, supaya kulit wajah terlindung dari matahari, dan tidak kering. Tapi saya abaikan itu. Tapi seiring berjalannya waktu, saya baru sadar bahwa benar kulit wajah saya mulai kering, yang mungkin seharusnya belum menjadi sekering sekarang akibat tidak adanya perawatan. (Dulu saya selalu memakai bedak langsung ke muka, tanpa memakai pelembab). Tapi semua sudah lewat, waktu tidak bisa diputar ulang, betapapun saya menginginkannya.

Dulu, saya suka heran, mengapa Papa dan Mama sering mengeluh “silau” setiap kali menonton TV. Sekarang saya baru tahu, bahwa seiring berjalannya waktu, hari ini, saya mendapati bahwa pandangan saya yang tertumpu ke layar laptop memberikan kesan sama, silau! (saya belum setua mereka, tapi tiba-tiba sadar, bahwa apa yang dikeluhkan akan saya alami nanti).

Dulu saya suka bingung, kenapa orang-orang tua yang saya temui tidak bisa melihat dalam jarak dekat (mata ‘plus’). Tapi seiring berjalannya waktu, saya baru sadar bahwa mata kiri saya “minus” sementara mata kanan saya “plus” karena buram waktu melihat tulisan dalam jarak dekat.

Manusia kalah oleh waktu. Kekuatan tidak bisa sama seperti waktu muda. Fungsi organ tubuh juga mengalami penurunan pasti. Itu sebabnya, jadilah bijaksana. Belajarlah kepada orang-orang tua di sekitar kita. Belajar dari mereka yang sudah lebih banyak pengalaman hidup. Supaya tidak berakhir seperti kisah hidup Raja Rehabeam (1 Raja 12).

1 Comment

Filed under Life

The real battle is in your (my/our) mind!!

Pagi itu saya merasa mual ketika 1 pesan masuk dari seorang teman. Dia mengabarkan bahwa ada seorang mahasiswi bunuh diri dengan cara meloncat dari ketinggian 9 lantai sebuah kondo. Memang sih, messagenya dikirimkan malam kemarin. Tapi mungkin HP saya sudah off, jadi begitu pagi saya nyalakan, berita itu membuat saya agak “gimanaaa” gitu perasaannya.

Tebakan saya benar, bahwa si mahasiswi hamil. Tapi sampai sekarang, sekalipun begitu banyak cerita yang mencoba mereka apa alasan dia nekat terjun dari ketinggian, pastinya yang tahu hanya si mahasiswi (dan Tuhan!). Untuk issue pilih kasih dari orangtua. Sepertinya banyak anak mengalami hal sama, tapi toh tidak meloncat/bunuh diri. Untuk issue kehamilan, toh hamilnya sudah berjalan beberapa bulan. Jadi seandainya dia frustasi gara-gara hamil di usia muda, kenapa harus menunggu waktu janin sudah membesar? Dan, tidak semua wanita yang hamil di luar nikah, membunuh dirinya sendiri. Yang ada justru kasus-kasus aborsi bayi. Untuk alasan hubungannya dengan sang pacar yang tidak direstui orangtua, toh ada begitu banyak anak yang mengalami hal serupa, dan mereka tidak bunuh diri. Hidup memang misteri? Sepertinya iya.

Umur seseorang tidak bisa diprediksi. Tapi satu alasan yang mungkin sumbangsihnya sangat besar terhadap tindakan nekat si mahasiswi adalah: rasa “lonely”. Kesepian. Di tengah keramaian sekalipun, seseorang bisa merasa kesepian. Sebaliknya, di tengah suasana sepi, belum tentu seseorang merasa kesepian.

Jadi dimanakah bedanya? Seorang yang merasa kesepian sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitu negatif, dan… mematikan. Pikiran yang berkata bahwa “no one cares”, “nobody understands”, sekeliling sepertinya membenciku, orang-orang selalu merendahkan aku, identitasku tidak pernah lepas dari masa laluku itu sebabnya orang-orang mencemooh aku, dll. Apakah benar demikian? Jawabannya: TIDAK! The real battle is in your mind! Janganlah bertindak dan berkata-kata atas dasar pikiran “jelek”, “buruk”, negatif tentang orang lain/keadaan sekeliling.

Sebaliknya, ingatlah bahwa kita harus memenangkan peperangan itu! Win the battle which is in your mind! Remember that Erna and beware!!

Leave a Comment

Filed under Daily Journal, Life

Blessings by Laura Story

Saya amat sangat diberkati dengan kiriman link dari seorang sahabat bernama Tina. Klik saja link ini: http://www.youtube.com/watch?v=1CSVqHcdhXQ

Dengarkan lagunya. Dan ijinkan saya menyalin liriknya….

We pray for blessings
We pray for peace
Comfort for family, protection while we sleep
We pray for healing, for prosperity
We pray for Your mighty hand to ease our suffering
All the while, You hear each spoken need
Yet love us way too much to give us lesser things

‘Cause what if Your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights
Are what it takes to know You’re near
What if trials of this life are Your mercies in disguise

We pray for wisdom
Your voice to hear
And we cry in anger when we cannot feel You near
We doubt Your goodness, we doubt Your love
As if every promise from Your Word is not enough
All the while, You hear each desperate plea
And long that we’d have faith to believe

When friends betray us
When darkness seems to win
We know that pain reminds this heart
That this is not, this is not our home
It’s not our home

Seperti pengalaman hidup yang saya dapatkan, betapa saya pernah berdoa untuk sebuah kesembuhan ternyata tidak terjadi. Untuk sebuah mimpi yang digenapi, yang ternyata kenyataannya justru jauh dari mimpi itu. Dan untuk banyak permohonan doa yang saya naikkan yang ternyata sepertinya Tuhan begitu “diam”. Lagu ini mengingatkan saya bahwa “apapun yang terjadi Tuhan itu baik”.

Permasalahan, kesedihan, dan segala hal yang menyesakkan dada, tidak pernah menjadi faktor pengurang akan kebaikanNya…. itu yang saya dapat dari lagu ini.

Leave a Comment

Filed under Love

Gara-gara Nasi Goreng

Sore ini, saya benar-benar ngantuk di bis. Dan pas di angkot tiba-tiba mual. Waktu di bis juga nggak tahan mencium bb dari penumpang yang duduk di depan, sampai saya pindah tempat duduk.

Sampai di rumah, kepinginnya sih ganti pakaian, langsung zzz memuaskan rasa kantuk. Ternyata…Keponakan saya bilang mamanya sedang pergi. Saya tawari makan, dia langsung “iya” dan bahkan mengatakan, “Lapar…”.

Saya lalu melakukan “ritual” sebelum makan.

  1. Memanaskan nasi dengan cara menancapkan kabel rice cooker ke listrik.
  2. Memanaskan lauk-pauk yang adalah kuah sup daging dan ayam tim.

Setelah semua siap, saya mengambilkan Mike nasi dan juga untuk diri sendiri. Karena Mike tidak mau kuah supnya, maka saya tuang semua ke dalam piring nasi saya.
“Aku mau yang itu!” kata Mike menunjuk ayam tim.

Saya mengambil potongan daging ayam+tulangnya, dan menuangkan kuah. Tercium bau aneh!
“Basi nggak Mike?” tanya saya.
Awalnya Mike berkata tidak basi. Tapi setelah saya minta dia mencicipi apakah rasanya asam atau tidak, Mike berkata, “Asem Ik!”

Saya pun tiba-tiba mendapatkan dorongan untuk memasak nasi goreng!
“Ya sudah, kamu makan nasinya IIk aja, Iik mau masak nasi goreng!” kata saya.

Saya mengiris jamur, sosis (thank God for the sosis), dan ayam tim yang tidak basi (kuahnya yang basi dan saya buang).
Saya keluarkan margarin, 1 butir telur ayam dan oyster sauce dari kulkas, memotong bawang putih, lalu siap memasak! (Cieee… komentar PC saya… ah jadi malu…)

Sementara margarine melumer di penggorengan, saya berdoa agar masakannya enak. Saya bingung melihat irisan jamur, sosis, ayam dan bawang putih di atas talenan.
“Ya Tuhan, bagaimana cara memasaknya ya?” tanya saya dalam hati. Saya harus stay cool di depan keponakan…

Tiba-tiba terlintas gaya masak tukang nasi goreng gila yang Minggu lalu saya kunjungi bersama sang PC. Lalu saya pun memasukkan bawang putih ke dalam penggorengan yang sudah saya beri margarine. Kemudian saya masukkan jamur, irisan ayam, dan sosis. Saya aduk-aduk sebentar sampai sosisnya terlihat agak lebih gelap. Lalu saya masukkan telor ayam (tanpa kulitnya, tentu!). Saya taburi garam agak banyak dan oyster sauce! Saya cicipi. Hmm… enak! Asin! Tapi kan belum ada nasinya jadi pasti asinnya nanti jadi “pas”! Terakhir saya masukkan nasi! Saya aduk-aduk supaya asinnya merata di seluruh nasi (masih kurang rata ternyata) dan…. nasgor siap sedia untuk disantap!!

Hmm… saya puas kali ini dengan hasil karya saya. Rasanya… enak. Walaupun kata William “kurang asin”. Mike yang sudah menghabiskan nasi saya, ternyata masih bisa menghabiskan 2 piring nasgor porsi kecil!! Jadilah nasgor tadi ludes dimakan 3 orang.

Waktu mandi, saya merenung. Puaaasss rasanya hidup ini. Terasa berarti… karena saya berhasil “memberi makan” dua keponakan saya secara baik dan benar!

Maka menulislah saya di wall FB:
Jika kita ingin hidup terasa berarti, hiduplah bukan untuk diri sendiri…

Leave a Comment

Filed under Relationship