Nasgor Bumbu T

Sepulang kantor, aku diminta Papa memasak nasi goreng. Dia kurang suka dengan ayam tim yang dimasak di rumah. Jadi disuruhnya aku memasak nasi goreng dengan daging ayam tim yang disuir-suir. Aku setuju saja.

Bawang putih, minyak, telor ayam sebutir, suiran ayam tim, nasi, kucampur dengan minyak ikan (untuk menghilangkan bau amis dari telor), kecap asin, garam dan merica. Pesan “jangan terlalu asin” begitu menancap di otak, dan jadilah nasi goreng berwarna putih, yang agak kurang asin, tapi lumayan. Papa memuji-muji sebagai enak. Setelah mengambil seporsi, Papa menambahkan porsi berikut. Puji Tuhan! Berarti memang enak. Aku sudah mulai agak bangga sedikit. (sebelum memasak, aku berdoa supaya enak. Karena biasanya hambar. Sssttt!). Tiba-tiba…

“Siapa dulu dong yang kasih instruksi!!” kata Papa waktu ditanya kakakku soal si nasi goreng yang dikata enak itu.

Yah, tidak apa-apa lah. Yang penting sudah dibilang enak. Walaupun yang lebih bangga sepertinya Papa. Karena menurut Papa, nasi itu bisa jadi enak, oleh karena “instruksi” alias “komando”-nya! Tapi aku belajar sesuatu hal penting. Yaitu bahwa ketaatan itu menyenangkan hati orang yang perintahnya ditaati.

Ya, aku menyenangkan orangtuaku (dalam hal ini Papa), karena menuruti keinginannya: dia mau nasi goreng, pakai daging ayam tim, minyak sedikit, tidak terlalu asin. Semua kuikuti. Dan apa yang kudapat? Pujian dari Papa. Sejuta rasanya. Ehem! Aku pun menamai nasi goreng ini, nasgor bumbu T (baca: Taat).

Leave a Comment

Filed under Life

Cinta Bersemi di Betlehem

Satu hari, sepasang suami istri, Elimelekh dan Naomi, dari Betlehem, merantau ke negara lain, karena negaranya mengalami kelaparan. Sepertinya keputusan mereka salah, kalau dilihat dari kalimat-kalimat keluhan Naomi, sebab ternyata di negara baru sang suami meninggal dunia. Kedua anak laki-laki mereka pada akhirnya juga meninggal dunia disanasebelum memiliki anak. Sehingga pada akhirnya, Naomi hanya tinggal bersama kedua menantu perempuan, yaitu Ruth dan Orpa. Naomi lalu mengambil keputusan untuk “pulang kampung” karena selain ditinggal suami dan anak-anak, dia juga mendengar Tuhan sudah memulihkan kondisi negaranya.

Nah, dalam perjalanan ke sana, Naomi menegaskan sekali lagi kepada Ruth dan Orpa bahwa dia sudah tidak punya apa-apa, jadi mereka boleh meninggalkannya sendirian. Kalau memang tidak mau ikut, tidak apa-apa. Istilahnya begitu. Benar saja, Orpa memutuskan untuk tidak ikut Naomi. Tapi Ruth ternyata bersikukuh tetap ikut. Katanya, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!

Akhir cerita, Ruth dinikahi oleh Boas, seorang pria lajang yang kaya raya, baik hati, murah hati, dan sangat bertanggung jawab. Luar biasa!

Dari cerita di atas, aku mau membahas nilai-nilai yang harus dipunyai oleh pria dan wanita, kalau mereka mau hidup bersama dalam sebuah pernikahan yang bahagia. Apa sajakah itu?

Nilai Seorang Wanita Sejati            

Baik/Kebaikan
Sudah jelas dari cerita tadi dan kalimat Ruth yang “ngotot” tidak mau meninggalkan Naomi, bahwa Ruth adalah wanita yang punya nilai Kebaikan. Dia baik hati.

Buktinya? Dia mengerti kondisi sulit yang dialami mertuanya: ditinggal mati suami dan kedua anak laki-laki, lalu tidak punya harta sama sekali. Yang tersisa hanyalah rasa malu. Ruth tahu karena mendengar keluhan-keluhan Naomi, dan timbullah rasa empati Ruth kepada Naomi.

Untuk dibayangkan, Ruth adalah janda muda, sehingga sangat mungkin untuk menikah lagi dengan pria idamannya yang lain dari negaranya sendiri. Tapi karena mengikuti Naomi, semua orang di negara Naomi pasti tahu apa status Ruth: janda miskin. Secara logika, masa depan seperti apa yang akan dia dapatkan di negara mertua? Tidak ada.

Tapi ternyata kebaikan hati Ruth menuntunnya ke jalan hidup yang lebih baik, yaitu hidup dalam segala kebaikan Tuhan.

Ini pujian dari para wanita di sekeliling Naomi tentang Rut:

….sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki. (Rut 4:15)

Bertanggung jawab
Sesampainya di kampung halaman mertua, Ruth langsung giat bekerja. Dia bertanggung jawab untuk memberi makan mertuanya yang sudah tua dan tidak punya apa-apa.

Bisa dibaca di Rut 2:2: Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: “Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku.” Dan sahut Naomi kepadanya: “Pergilah, anakku.”

Rajin
Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia tidak berhenti. (Rut 2:7)

Taat
Ruth juga sangat taat kepada Naomi sebagai mertuanya (baca: orangtua satu-satunya yang ia miliki).

Lalu kata Rut kepadanya: “Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan.” Sesudah itu pergilah ia ke tempat pengirikan dan dilakukannyalah tepat seperti yang diperintahkan mertuanya kepadanya.

Bermoral Baik
Ini yang dipuji Boas dari Rut:

“Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya. Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik. (Rut 3:10-11)

Di mata orang sekota pun, Rut dipandang sebagai wanita baik-baik. Luar biasa!

Nilai Seorang Pria Sejati

Tahu Aturan
Atau dengan kata lain: tidak seenaknya sendiri. Hidupnya taat aturan. Mengerti dan menghormati nilai-nilai dalam budaya bangsanya.

Maka sekarang, memang aku seorang kaum yang wajib menebus, tetapi walaupun demikian masih ada lagi seorang penebus, yang lebih dekat dari padaku. (Rut 3:12)

Bertanggung jawab
Dia orang yang bertanggung jawab atas hidup Naomi dan Ruth setelah diberitahu bahwa dialah salah seorang kerabat yang bisa menolong Naomi.

Bertanyalah ia: “Siapakah engkau ini?” Jawabnya: “Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami.”  (Ruth 3:9)

Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik. (Ruth 3:11)

Baik hati
Setelah kerabat yang lebih layak menanggung hidup Naomi tidak bersedia menikahi Ruth, Boas berkata dalam ayat di bawah ini:

“Kamulah pada hari ini menjadi saksi, bahwa segala milik Elimelekh dan segala milik Kilyon dan Mahlon, aku beli dari tangan Naomi; juga Rut, perempuan Moab itu, isteri Mahlon, aku peroleh menjadi isteriku untuk menegakkan nama orang yang telah mati itu di atas milik pusakanya. Demikianlah nama orang itu tidak akan lenyap dari antara saudara-saudaranya dan dari antara warga kota. Kamulah pada hari ini menjadi saksi. (Ruth 4:9-10)

Dengan risiko bahwa anak pertama yang dilahirkan Ruth daripadanya akan dianggap sebagai anak dari Naomi. Bukan anak Boas.

Murah hati
Boas memberikan begitu banyak jelai untuk makanan Ruth dan Naomi, mertuanya, tanpa ragu-ragu. Bahkan Ruth juga diberinya perlindungan/keamanan.

Lagi katanya: “Berikanlah selendang yang engkau pakai itu dan tadahkanlah itu.” Lalu ditadahkannya selendang itu. Kemudian ditakarnyalah enam takar jelai ke dalam selendang itu. Sesudah itu pergilah Boas ke kota. (Ruth 3:15)

serta berkata: “Yang enam takar jelai ini diberikannya kepadaku, sebab katanya: Engkau tidak boleh pulang kepada mertuamu dengan tangan hampa.” (Rut 3:17)

Setelah ia bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: “Dari antara berkas-berkas itu pun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu; bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Ruth 2:15-16)

Diberkati
Boas direstui dan diberkati oleh para tua-tua, atas kebaikan yang ia berikan untuk Naomi dan Ruth.

Dan seluruh orang banyak yang hadir di pintu gerbang, dan para tua-tua berkata: “Kamilah menjadi saksi. TUHAN kiranya membuat perempuan yang akan masuk ke rumahmu itu sama seperti Rahel dan Lea, yang keduanya telah membangunkan umat Israel. Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyhur di Betlehem, keturunanmu kiranya menjadi seperti keturunan Peres yang dilahirkan Tamar bagi Yehuda oleh karena anak-anak yang akan diberikan TUHAN kepadamu dari perempuan muda ini!” (Ruth 4:11-12)

Keturunan yang Baik
Boas dan Ruth melahirkan Obed, yang menurunkan Daud, orang yang kepadanya Tuhan berkata, “The man of My own heart”.

Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: “Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki”; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud. (Ruth 4:17)

Kesimpulannya:
Pasangan yang tepat, punya nilai-nilai jelas yang bisa kita lihat seperti Boas dan Ruth. Dan kesatuan mereka melahirkan keturunan yang luar biasa! Buat teman-teman wanita, nikahilah “Boas” dan jadilah “Ruth”! Buat teman-teman pria, nikahilah “Ruth” dan jadilah “Boas”!

Leave a Comment

Filed under Love

Coretan Angka….

Hari itu saya sengaja meliburkan diri. Entah kenapa, rasanya badan ini pingin di rumah. Jadilah hari itu saya meng-sms teman kantor minta ijin satu hari. Mulai dari pagi saya tenggelam dalam bacaan-bacaan saya, tentang perilaku remaja. Kebetulan lagi diminta teman untuk nulis tentang remaja. Cukup sulit dimengerti karena remaja jaman sekarang jauh sekali pola perilakunya dibanding jaman saya masih remaja beberapa tahun laluuuuu…..

Sekitar jam 11 siang, saya masuk kamar orangtua. Di teras kamar yang terang benderang terkena sinar matahari ada meja bacanya. Saya tarik kursi berwarna abu-abu di kamar itu, dan mulai duduk bersiap membaca. Saya bentangkan salah satu buku dan akan mulai menyimak isinya. Karena paling nyaman posisi tangan harus dilipat, saya pun melipatnya di atas meja berdekatan dengan tepian bawah buku. Tetapi selagi kepala tertunduk, tertangkaplah oleh mata saya bagian atas meja yang juga berwarna abu-abu, penuh coretan angka!!!!

“Betapa kotornyaaaaaa…..!!!!” jerit saya dalam hati….

“Ah!!! Dasar anak kecil!!” kata saya lagi (dalam hati juga).

Yah, begitulah kalau di rumah ada anak kecil. Bidang datar nggak bisa lolos dari semangat coret-mencoretnya. Enggak mungkin saya marahi. Namanya juga anak kecil, lagipula saya sayang sama dia.

Lalu dengan cepat pikiran saya dipenuhi gambaran betapa lucu dan menyenangkannya dia. Kreatif, ceria, tapi kadang cengeng, aktif, cerewet, ramai, pokoknya hebohlah!

Tiba-tiba….. tanpa disangka air mata menetes…..(Saya sendiri kaget, ada apa ya??). Kontan saya tutup muka dengan kedua tangan. Rupanya Tuhan sedang menjamah saya…

Kira-kira begini kalimatNya yang saya tangkap dalam hati, “Seperti engkau mengasihi dia, Aku pun mengasihimu….”  Huuuaaaa….. saya makin terharu.

Beberapa menit saya makin tertunduk lebih lagi….. sambil terus mengusap air mata, kuatir kalau-kalau ada orang lain masuk kamar.

”Ah Tuhan…. Saya memang sayang sama keponakan yang satu itu, terlalu sayang bahkan sampai-sampai saya nggak mungkin memarahi dia atas perbuatannya mengotori meja baca itu.”

Tapi…..

”Masa sih Tuhan juga seperti itu?”
”Masa sih Dia sayang sama saya?”
”Saya sering lho bikin TUHAN kesel”.
”Bahkan nggak jarang saya ngelupain Tuhan…”
”Apalagi kalau keadaan terlalu nyaman….”
”Belum lagi waktu situasi makin gawat….”
”Saat saya dalam kegelisahan yang aneh….”
”Atau terperangkap ke dalam kebosanan yang rasanya tak berujung….”
”Masa sih Tuhan????” saya memberondong TUHAN dengan pertanyaan-pertanyaan ”nggak pede” itu.

JawabanNya memang nggak terdengar jelas, tapi yang pasti….. hati saya…. air mata yang keluar….. semuanya terjadi secara tiba-tiba tanpa saya perhitungkan….
Itu pasti TUHAN…….
(God is really good …… He cares for me and you…..)

(From the book “God, me and my diary”) 

Leave a Comment

Filed under Love

Malunyaaa…..

Sore hari itu, ½ jam sebelum jam pulang kantor, hujan deras turun. Waduh! Aku pun mencoba menguatkan hati dan berkata dengan percaya kepada Tuhan bahwa hujan pasti berhenti waktu aku pulang nanti.  Tapi ternyata tidak. Tuhan menyediakan pertolongan berbeda dari yang kupikirkan. Seorang teman kantor tiba-tiba mengajakku menumpang di mobil teman kantor lain. Jadilah kami bertiga, termasuk si pemilik mobil, menunggu di sebuah toko buku sambil terus was-was melihat ke arah jalanan lewat tembok kaca toko buku itu. Setelah beberapa menit menunggu, tiba-tiba si pemilik mobil berkata, “Eh! Itu dia! Udah dateng!”

Benar saja, mobil berwarna abu-abu tua itu sudah parkir di depan toko buku. Aku missed rupanya, karena tidak melihat mobil itu di jalanan arah sana, kok tiba-tiba sudah parkir di situ. Maka kami bertiga keluar dari toko. Temanku sebut saja si Ocha menyuruhku berpayungan dengannya. Sementara si pemilik mobil, sebut saja si Santi membuka payungnya.

Yang pertama membuka pintu mobil bagian belakang aku. “Kamu duluan Na!” kata Santi. Kejadian memalukan pun dimulai…

Aku membuka pintu mobil dan melihat seorang pria di dalamnya. Tapi bukannya aku tersadar kalau salah mobil, aku malah menggeser kotak makan yang tergeletak di jok mobil, supaya tersedia cukup ruang untuk aku dan temanku duduk di dalamnya sambil berkata, “Nebeng ya…” Beberapa detik setelahnya, tiba-tiba kalimat dari pria tadi terucap, “Eh, salah ya….” Sambil tersenyum. Rupanya dia mengatakan kalimat itu untuk Santi yang juga membuka pintu mobil bagian depan dan akan duduk di sebelahnya!

Melihat ekspresi muka si pemilik mobil asli dan mendengar kalimat konfirmasinya kalau saya dan teman-teman masuk ke mobil yang salah, aku buru-buru keluarrrrr!! Santi masih sempat berkata, “Oh sori!” Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku malu luar biasa. Mukaku panas. Tawaku tidak berhenti di pinggir jalan. Kami bertiga terbahak-bahak (baca: cekakakan) sambil berpayung ria. Untung saja anak bapak itu beberapa detik kemudian sudah masuk mobil, dan mereka pergi meninggalkan kami.

Hujan yang tadinya agak reda, mulai deras lagi. Tapi tidak satu pun dari kami mau kembali ke toko buku. Kami asli malu! Takut kalau orang-orang yang di belakang kami atau di dalam toko buku ada yang tahu perbuatan memalukan yang kami lakukan. Cukuplah kami menertawakan diri sendiri, orang lain tidak perlu ikut-ikutan. Air mataku dan air mata Ocha sampai harus keluar gara-gara tertawa yang begitu dahsyatnya. (Bahkan ketika aku menuliskan ini pun aku masih tertawa-tawa). Kejadian paling memalukan seumur hidupku! Hahahahaha……1.000 kali lipat!! Malunya… 1.000 kali lipat juga X_X

Leave a Comment

Filed under Daily Journal

Lagu bagus!!!

Ada lagu baguuus banget. Lagu anak-anak, tapi kata-katanya luar biasa….begini:

Apapun masalah jangan pernah menyerah
Apapun rintangan tetap bertahan
Badai kan berlalu mentari kan bersinar
Masih ada Tuhan…Masih ada Tuhan
Reff:
Kutinggikan namanya Yesus, kutinggikan namaNya besar (2x)
Ini cara kami…ini cara kami…melewati badai

Kalimat yang mau saya highlight adalah ini:

Badai kan berlalu mentari kan bersinar
Ayatnya di 2 Kor 4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Segala sesuatu, baik itu yang menakutkan maupun yang menggembirakan hanyalah sementara. Bahkan dalam hitungan detik, 1 detik yang lalu sudah jadi masa lalu kan? Jadi kalau ada badai, itu pasti berlalu dan berganti dengan mentari yang bersinar. Dan seterusnya. Semuanya sementara.

Ini cara kami melewati badai
Badai bukan dilewati dengan cara menangis, bersungut-sungut, menyalahkan orang lain, dll walaupun itu terlihat lumrah. Tapi badai harus dilewati dengan cara: meninggikan Tuhan, jangan pernah menyerah, tetap bertahan, terus melangkah maju, tentunya bersama dan didalam Tuhan.

Kalau mau denger lagunya, ini linknya: http://www.youtube.com/watch?v=oLHId5WyZ3c

Like This!!

Leave a Comment

Filed under Life

SELAMAT PASKAH!

Hari ini di kantor ada “morning devotion” 1 jam. Karena masih seputar Paskah, maka diputarlah cuplikan film The Passion of The Christ.

Yang paling berkesan buat saya adalah ketika adegan sampai pada kalimat “Eloi, Eloi, lama sabakhtani…” Tiba-tiba saja terbayang betapa sakitnya perasaan ditinggalkan oleh orang yang sangat kita andalkan dan percayai. Demi sebuah misi yang begitu dianggap remeh oleh manusia, Allah Bapa tega melakukan itu-meninggalkan anakNya yang tunggal.

Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib lebih dari cukup. Dia tidak dianggap siapapun, tapi toh Dia tetap menyelesaikan tugasNya dengan sangat baik. Sampai pada kalimat “Sudah selesai…” dan Dia pun menyerahkan nyawaNya kepada Allah Bapa (bukan dicabut oleh Allah Bapa, tapi Dia yang rela menyerahkan loh!).

Saya berdoa supaya seberat apapun masalah dan seganas apapun badai yang menyerang hidup saya dan orang-orang yang saya kasihi, tidak satu pun dari kami meninggalkan Tuhan… Saya juga berdoa, sehebat apapun kehidupan saya dan orang-orang yang saya kasihi, boleh kami alami, tidak satu pun dari kami melupakan Tuhan.

Semua ada karena Tuhan Yesus sudah menyelesaikan semuanya. Dia yang menanggung dosa saya, sakit penyakit, kelemahan, keburukan diri saya dan orang-orang yang saya sayangi di atas kayu salib.

Terima kasih Tuhan, buat Paskah tahun ini.

SELAMAT PASKAH!

Leave a Comment

Filed under Love

2 Gaya Meminta

Dua keponakan saya punya gayanya masing-masing dalam hal meminta.

Yang besar, Will, kalau meminta sesuatu, gayanya: merengek-rengek, alias terus-terusan meminta sampai mendapatkan apa yang dia minta. Contoh: Pernah dia minta sesuatu sama saya, tapi saya lupa apa itu. Saya sudah menjawab: “Iya nanti dibikinin.” Tapi dia terus dan terus meminta, padahal saya sedang melakukan hal lain. Saya pun akhirnya “mengalah” dan memenuhi permintaannya.

Yang kecil, Mike, kalau meminta sesuatu, gayanya: sekali meminta, setelah itu diam. Giliran saya yang kebingungan sendiri, karena “diam”nya itu. Sebagai orang yang dimintai sesuatu, gaya meminta model begini membuat saya merasa bersalah kalau saya tidak memenuhi permintaannya. Contoh: hari ini, saya dimintai sesuatu.

“Ik, pinjem laptopnya dong!” begitu katanya.
“Mau buat apa?” tanya saya.
“Mau ngeprint Ik.”
“Loh! Mana bisa pake laptopnya Iik. Harus diinstall dulu driver printer kamu ke laptop, padahal laptop Iik udah penuh.”
“Ya udah kalau gitu aku pinjem aja, nanti aku transfer gambar yang udah aku cari dari internet.”
“Gimana caranya?” tanya saya mengetes.
“Pakai USB,” jawabnya.

Waduh! Saya tahu persis USBnya dia bervirus. Dan saya juga tahu (kurang) persis, kalau PC yang untuk ngeprint juga bervirus, karena sering dipakai untuk mendownload gambar, foto, youtube or whatever. Jadi posisi saya serba sulit. Mau meminjamkan USB saya, akan beresiko kena virus. Tidak mau meminjamkan….Mike akan pakai USBnya yang bervirus itu. 

Saya coba terangkan situasi di atas ke Mike. Dia cuma diam. Setelah makan malam, dia masuk ke kamar belajarnya dan… masih diam.

Akhirnya saya menyerah dan memilih untuk mengambil “jalan lain”/solusi demi memenuhi permintaan Mike. File di USB saya, yang masih penting, saya pindahkan ke laptop, supaya setelah dipakai sama Mike, USB itu bisa saya format untuk menghilangkan risiko terkena virus.

“Mike! Katanya mau pinjem laptop?” tanya saya setelah beberapa lama kemudian.
“Katanya nggak bisa pake USB?” tanya Mike membalas pertanyaan saya. Ternyata dia diam karena berpikir saya sudah tidak mau meminjamkan laptop saya. Mungkin dia sudah berpikir cara lain, yaitu meminjam laptop papanya atau bagaimana. Tapi however, “diam”nya membuat saya resah.
“Nggak apa-apa deh! Kamu pake USB-nya Iik aja!” jawab saya pasrah.

Begitu cerita saya.

Hmm… bukankah dalam Alkitab, kita juga diajar dua “gaya” meminta?

#1 Gaya Merengek

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius  7:7)

Arti ayat di atas dalam bahasa aslinya adalah: minta dan teruslah meminta, maka akan diberikan kepadamu. Cari dan teruslah mencari, maka kamu akan mendapat. Ketok dan teruslah mengetok, maka pintu akan dibukakan bagimu.

#2 Gaya Percaya

Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. (Markus  11:24)

Kita juga diajar untuk memraktikkan ayat di atas ini. Jadi instead of asking something we need, contoh: “Tuhan, aku berdoa untuk sepatu baru. Berikan aku sepatu baru ya Tuhan”. Sebaiknya kita berdoa seperti ini: “Terima kasih Tuhan, aku sudah mendapatkan sepatu baruku sebentar lagi.”

Berdoa dengan kepercayaan penuh seperti sudah menerima. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengganti kalimat doa dari yang awalnya berupa “permintaan”, menjadi “ucapan syukur”.

Pilih gaya yang mana? Terjadilah sesuai iman kita masing-masing! Amin!

1 Comment

Filed under Faith